--= Sekedar Coretan =--
"Katempo Ayana, Kadenge Sorana jeung Karasa Mangfaatna"

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2017

Organisasi itu tempat orang bekerja sama dan sama-sama Bekerja.

Aneh campur kaget, itulah barangkali ungkapan yang bisa disampaikan ketika ada seseorang yang memberikan statemen "organisasi ini cukup dijalankan oleh beberapa orang saja, tidak cukup banyak-banyak"

Ya... aneh. aneh karena ucapan itu keluar dari orang "organisatoris" yang mempunyai posisi dimana-mana sebagai pucuk pimpinan.  Entah... Apakah ucapan itu keluar dari hasil analisanya atau sebagai pembenaran saja karena malu yang bersangkutan tidak pernah aktif.

Komposisi dan struktur organisasi di tiap tingkatan itu berbeda beda, kebutuhannya disesuaikan situasi dan kondisi, jumlah personelnya pun sama, dan makin bawah tingkatan organisasi makin sedikit pula jumlah struktur dan personelnya.

Dengan alasan tertentu, organisasi ada yang menganut sistem akomodatif sehingga jumlahnya sangat gemuk, dan ada pula yang menerapkan efisiensi dengan merampingkan struktur dan jumlah orang yang mengisi struktur tersebut.

Seluruh struktur dan posisi, baik posisi atas maupun bawah, posisi harian atau bidang/departemen, koordinator maupun anggota, sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab, harus punya eksistensi karena toh jabatan apapun harus dipertanggung jawabkan. Apalagi jika menjadi seorang muslim, posisi dan jabatan itu adalah amanah dan apabila kita menyia-nyiakan amanah (khianat) kita termasuk kedalam golongan orang-orang munafik.

Belum lagi, setiap masuk organisasi, kita selalu mengisi dan menandatangani pakta integritas. Sebuah pernyataan dan janjil yang mau tidak mau harus ditepati. Dan apabila kita tidak melaksanakan janji tersebut, khianatlah kita.

Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk bekerja sesuai dengan ketentuan dan aturan, karena posisi menimbulkan konsekuensi.

Minggu, 11 Oktober 2015

Kiyai Wahab dan Nasionalisme

Kiyai Wahab (Abdul Wahab Chasbullah) merupakan nasionalis sejati, tidak salah apabila beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional. Jasa-jasa beliau baik di zaman penjajahan Belanda, Dai Nippon, maupun pada masa revolusi fisik, jelas2 tak terbantahkan. Apalagi di era pemerintahan Presiden Soekarno (Bung Karno) yang cenderung di infiltrasi golongan kiri (Komunis/PKI), Mbah Wahab senantiasa menjaga keseimbangan politik (dengan segala resiko) agar pancasila tetap utuh sebagai Dasar Negara, dan tidak tergantikan oleh idiologi komunis.

Nasionalisme Islam, merupakan sebuah konsep Kiai Wahab tentang praktik kenegaraan yang dipadukan dan didasarkan dengan motivasi keagamaan.

Nasionalisme Islam yang dikembangkan oleh Kiai Wahab telah mengoreksi paham nasionalisme barat sekuler. Sebab sebagaimana diketahui, nasionalisme selama ini dibenturkan dengan agama akibat trauma masyarakat eropa dengan dominasi greja abad pertengahan. Dengan mendasarkan kebangsaan dari nilai-nilai Islam, Kiai Wahab telah meletakkan dasar bagi konsep nasionalisme religius, dan Islam yang nasionalis.

Nasionalisme Islam Kiai Wahab ini memuat dua makna. Disatu sisi kecintaan pada tanah air dan pembelaannya dari penjajah, pun juga atas kenyataan historis-kultural, bahwa wilayah nusantara secara sosiologis merupakan wilayah Islam  (dar al-islam) sebab didalamnya umat muslim bebas melaksanakan syariah, serta pernah berkuaaanya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dimana hukum islam ditegakkan.

Disisi lain, nasionalisme menempatkan perspektif politik sunni sebagai kekhasan Islam didalam paham nasionalisme. Kekhasan ini merupakan kebutuhan kaum sunni akan pemerintahan yang sah, untuk mengundangkan syariah Islam. Tentu pengundangan ini dilakukan hanya terhadap hukum yang bisa diundangkan  (wadh'ul ahkam fi halati imkaniyyati wadh'ihi). Oleh karena itu, orientasi nasionalisme sunni tidak semata pendirian negara modern demi kebaikan publik dalam sistem demokrasi, melainkan penegakan hukum Islam serta penjagaan kehidupan agama.  Ini terkait dengan tujuan pendirian  negara menurut sunni yang dipahami sebagai penerusan misi kenabian, yakni penegakan syariah dan perwujudan kemaslahatan umat, sebagaimana diisyaratkan oleh al-mawardi. Dalam kerangka ini, fikih menjadi metode utama dari pemikiran dan penentuan sikap politik sunni.

Dalam kerangka NU, Nasionalisme Kiai Wahab menunjukkan bahwa pendirian NU memiliki motivasi gerakan kebangsaan. Ini terlihat dari rentetan pendirian Nahdlatul Wathon yang merupakan gerakan pertama yang menjadi embrio dari Nahdlatul Ulama.

Sabtu, 27 Juni 2015

Manajemen Perbedaan

Beda itu wajib. Mengapa? karena kita sama. Sama? ya sama-sama beda. (Gus Candra Malik)

Tuhanpun menciptakan Manusia tidak ada yang sama, bahkan dari sekitar 7 milyar penduduk dunia yang ada saat ini semuanya berbeda baik fisik, sifat, perilaku, karakter, dan lainnya, walau kembar sekalipun.

Ini adalah realitas dan sunnatullah. Oleh karen itu, organisasipun mau tidak mau harus membeda2kan orang berdasarkan kapabilitas dan kecakapannya masing2 dalam sebuah posisi yang berimplikasi pada tugas dan peran (tupoksi)nya itu. Adanya fungsi staffing, organizing dan directing dalam sebuah manajemen itu tidak lain karena melihat realitas tersebut.

Seseorang yang menempati posisi tertentu harus mempunyai keleuasaan gerak karena tidak akan berdesak-desakan dengan yang lain. Tidak berdesakannya itu disebabkan karena masing2 memerankan peranan yang berbeda di kapling masing2. Ketika sebuah peran tidak diperankan dengan baik dan benar, atau bahkan tidak diperankan sama sekali, maka akan terjadi ketimpangan yang menjurus pada sebuah stagnasi.

Pun Apabila posisi yang berbeda itu melakukan tupoksi yang sama, maka akan terjadi overlaping (pacorokokod) yang bisa mengarah pada "pakusut dan pabaliut".

Seorang pimpinan mutlak harus memastikan semua perbedaan2 itu bekerja sesuai dengan job description dan wilayahnya masing2. Controling and evaluating yang sustinable harus selalu dilakukan baik secara periodik maupun insidental.

Berbagi peran, itu yang dituntut dalam menyikapi sebuah perbedaan. Kita pun tidak perlu "irid2an dan abring2an", tidak perlu semua yang berteriak, tidak perlu semuanya suka berbicara, tak perlu semua suka menulis, suka berkomentar dan tak perlu semuanya mencari proyek dan "angsul". Ya... tidak semua itu berarti tetap harus ada. Berbagi peran dalam mencapai tujuan, mutlak sangat kita perlukan. Toh melodipun tidak dibangun dari satu nada bukan?

Rabu, 12 November 2014

PENGEMBANGAN ORGANISASI

Penyempurnaan yang terencana dan menyeluruh baik dalam segi nilai, kaderisasi maupun struktur organisasi, menjadi suatu keniscayaan didalam organisasi. Penyempurnaan di tubuh organisasi itu kita namai dengan "Organization Development"

Pengembangan organisasi bukan hanya disebabkan karena organisasi saat ini kurang baik, namun lebih disebabkan karena tantangan yang semakin hari semakin kompleks. Kompleksitas tantangan tersebut hendaknya kita sikapi dengan arif dan bijak, yakni dengan cara "Al-muhafadzatu ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah"

Apabila saat ini kita sering menyaksikan stagnasi organisasi, baik dari sisi kelembagaan maupun pengurus, maka yakinlah pasti disitu ada yang salah. Stagnasi tersebut disebabkan karena keengganan atau bahkan kebingungan dan ketidak-tahuan untuk mengikuti perubahan, karena dianggap sebagai disequilibrium yang pada akhirnya akan menyebabkan patalogi organisasi (organisasi yang sakit).

supaya terhindar dari hal diatas, kita hendaknya secara rutin dan sustinable melakukan strategi dan kerja-kerja organisasi, diantaranya evaluasi, adaptasi, kaderisasi dan inovasi.

Strategi pertama dengan dengan melakukan evaluasi. Evaluasi bertujuan melakukan analisa, pemetaan dan permasalahan, serta menarik pelajaran dari hasil, manfaat, dan dampak dari semua kebijakan dan kegiatan yang telah digariskan dan direncanakan, sejauh mana efektifitasnya dalam mencapai tujuan organisasi.

kedua, adaptasi. Adaptasi hendaknya selalu dilakukan untuk mengimbangi dan mengikuti perkembangan dari lingkungan yang selalu berubah, baik lingkungan fisik maupun lingkungan siosial, sehingga apabila adaptasi tisak selalu kita lakukan kita akan kalah bersaing dalam mendapatkan "resources"

Ketiga adalah Kaderisasi. Kaderisasi adalah proses pendididkan jangka panjang untuk pengoptimalan potensi-potensi kader dengan cara mentransfer dan menanamkan nilai-nilai tertentu, hingga nantinya akan melahirkan kader-kader yang tangguh. Kaderisasi menjadi ruh dari organisasi, apabila kaderisasinya jalan, maka organisasi akan jalan, dan apabila kaderisasi stagnan, yakin beberapa saat kedepan organisasi itu akan bubar.

Strategi yang terakhir adalah dengan melakukan inovasi. Kenapa kita harus berinovasi? jawabannya adalah karena beberapa hal, diantaranya; untuk memenangkan persaingan, melakukan pembaruan, memenuhi permintaan "pasar" dan untuk pengembangan organisasi. Cara berinovasi yang mudah cukup dengan tiga hal, yakni memulai dengan hal-hal yang kecil, lakukan secara terus menerus dan dengan meningkatkan kualitas SDM.

Faktor-Faktor yang Mengebabkan Pengembangan Organisasi

Banyak faktor yang memaksa kenapa organisasi kita harus melakukan perubahan, yakni faktor eksternal dan faktor internal.

Semua factor yang ada di luar organisasi dimana factor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi disebut sebagai faktor eksternal. Beberapa faktor internal yang bisa kita identifikasi diantaranya adalah : 1. Kompetisi yang semakin tajam, 2. Perkembangan IPTEK dan 3. Perubahan Lingkungan baik Fisik maupun Sosial.

segala keseluruhan factor yang ada di dalam organisasi dimana factor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi disebut sebagai faktor internal. faktor-faktor internal yang kita miliki saat ini yang bisa menyebabkan organisasi kita berkembang adalah: 1) struktur; 2) sistem, aturan dan prosedur; 3) Proses dan saran dan 4) Perubahan dalam organisasi untuk mencocokkan dengan kebutuhan yang ada.

Kamis, 04 Juli 2013

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG
oleh : Ryan Syaifurrachman*)


Demokrasi membawa dua implikasi, harapan sekaligus kecemasan (Amartya Sen)


Sang pemimpin memang datang dan pergi. Tapi kehadirannya tak pernah persis sebangun dan kemudian memberikan jejak yang menjadi bukti bahwa rakyat di republik ini punya harapan dan cita-cita. Faktanya, sampai detik ini, jalan yang dilalui oleh para pemimpin kita itu seperti melenceng dari cita-cita luhur republik sebagaimana tersurat secara tegas baik dalam Pancasila maupun UUD 45.


Kehidupan rakyat tetap saja merana karena pemimpin dan juga negara seola-olah menjadi sosok yang asing dan sibuk dengan urusannya sendiri. Janji manis beserta bujuk rayunya yang diobral di arena konsolidasi dan diteriakan di mimbar-mimbar kampanye, hilang begitu saja dan menguap menjadi sekadar dusta! Benarlah apa yang dikatakan Nietzsche, “negara adalah monster yang terdingin hatinya, dan dengan dingin pula ia berdusta”.


Dalam diskursus demokrasi dikenal dua buah entitas integral demokrasi, yaitu procedural dan subtansial. Entitas pertama mengacu kepada proses dan entitas kedua berorientasi pada tujuan idiil dari demokrasi itu sendiri. Keduanya bersifat kausalitas dan resiprokal, yaitu berkinlan dan saling mempengaruhi. Baik salah satunya maka baik yang lainnya begitupun sebaliknya.

Pemilukada adalah manisfetasi dari demokrasi procedural dan terciptanya sebuah pemerintahan yang baik (goodgovernance) yang berorientasi pada terkonstruksinya sebuah masyarakat yang sejahtera (welfare state) adalah substansi/tujuuan idiil dari demokrasi itu sendiri.

Pemilukada merupakan ruang kontestansi kepentingan sekaligus kontrak politik awal antara elit politik sebagai calon pemegang otoritas pemerintahan dan rakyat sebagai entitas yang akan diperintah. Sejatinya pemilukada sebagai operasional sistem dari demokrasi melahirkan sosok pemimpin dan pelayan bukan penguasa dan pemerintah. Tapi apa lacur wajah demokrasi kita, termasuk dikabupaten Sumedang tercinta, hingar bingar dan berlimpahan kemewahan tapi menapikan substansi dari demokrasi itu sendiri yaitu kontrak politik dan sosial dalam menciptakan kesejahteraan untuk rakyat sang pemilik kedaulatan. 

Bermilyar – milyar dana yang dihabiskan untuk sebuah pemilukada, tapi ketika seorang pemimpin telah dihasilkan dilegitimasi melalui proses politik pemilukada maka kembali rakyat kecewa, merana dan hanya bisa pasrah dirundung nestapa. Alih – alih melahirkan pemimpin politik dan sosial yang bisa diharapkan membawa perubahan dan kesejahteraan, demokrasi kita dalam hal ini pemilukada hanya bisa menghasilkan pemimpin tipe bandit demokrasi, yang kerjanya hanya memuaskan syahwat kekuasaan dan menumpuk harta walalu diatas penderitaan rakyat sekalipun, seperti pepatah jerman das sein das solen, apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sehingga tak berlebihan apabila ada sebagian masyarakat yang mulai bersikap apatis dan memiliki persepsi bahwa sejatinya pemilukada adalah jalan Tuhan dalam memilih wakil setan, sarkastis?? Memang iya tapi begitulah kenyataannya. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan sebagaimana pepatah yunani “vox populi vox dei” hanya dianggap sebagai objek penyerta bahkan objek penderita dari sebuah proses pemilukada sebagai sebuah pesta demokrasi.

Berkaca dari hal diatas maka sebagai bahan renungan bersama tak ada salahnya bahwa kontek perjuangan melawan lupa adalah sebuah gerakan yang harus diusung bersama setelah pemilukada usai dan pemimpin daerah terpilih. Hal ini penting dilakukan untuk sebuah proses pembelajaran bersama bahwa pemilukada adalah sebuah kontrak politik antara elit dengan rakyatnya. Sehingga janji – janji politik yang diumbar dan didengung- dengungkan oleh elit politik dimimbar – mimbar kampanye bukan merupakan sebuah “janji manis dan rayuan gombal” yang dilupkan dan dibiarkan sirna dari ingatan dan memori rakyat. 

Mari kita sama – sama membangun preseden politik yang baik bahwa janji kampanye adalah janji politik yang harus tuntas tertunaikan ketika elit tersebut mendapatkan legitimasi politik dengan menjadi pemenang di arena pemilukada. 

Mari kita menjadikan diri kita dan masyarakat yang lainnya menjadi pembelajar politik yang baik, dan jangan mau dijadikan objek dusta dimusin dusta oleh mesin dusta. Dan jadikan perjuangan melawan lupa pasca momentum pemilukada sebagai media untuk membenahi infrastruktur dan suprastruktur politik di Sumedang kita tercinta. 

Jangan biarkan para pemimpin hasil pemilukada dengan nyamannya menjadi seorang demagog politik yang kerjanya hanya menjadi agitator penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih, tapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat, bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

Besok sumedang tercinta memasuki sejarah baru dengan akan dilantiknya bupati sumedang periode 2013 – 2018. Kami ucapkan selamat!. Semoga dari pemilukada yang telah usai kami sebagai rakyat sumedang bisa mulai membangun harapan ataupun mimpi sekalipun tentang terealisasinya Sumedang yang sejahtera Sumedang yang tandang makalangan bukan Sumedang yang ngarangrangan. 

Kami hanya bisa berharap, walalupun kecemasan kami pun tinggi, karena seperti wajah pemilukada pada umumnya, rakyat lebih banyak kecewa dengan hasil pemilukada. Semoga hal ini tidak terjadi di Sumedang tercinta.

*) Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Sumedang Bidang Politik dan Hukum dan HAM, Ketua Presidium Mahasiswa Sumedang dan Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Sumedang

Kamis, 13 Juni 2013

Mahasiswa "Makruh" Masuk Partai Politik

Acep K Hidayat Susanto,
(Aktivis Mahasiswa Tahun 2003-2012)
Mahasiswa memang selalu menjadi topik yang  menarik untuk dikupas, membicarakan mahasiswa sama halnya dengan pemuda membicarakan gadis perawan; asyik, seru, membikin geregetan, penasaran dan lain sebagainya.

Ya, mahasiswa memang makhluk perawan, perawan dalam idiologi, perawan dalam idealisme, perawan dalam tatanan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Tidak salah apabila ada orang yang menyatakan bahwa saat-saat mahasiswa adalah saat yang ideal bagi seseorang untuk di bentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat, tentunya berkontribusi dalam melakukan berbagai perubahan di negeri ini. Sejarah dengan fakta-faktanya tidak pernah menyangsikan akan hal tersebut, dari mulai era Soekarno, Soeharto sampai saat ini dan masyarakat -walaupun tanpa konsensus- telah sepakat menyandangkan gelar "Agent of Change" kepada mahasiswa.

Mahasiswa bergerak berdasarkan nilai yang mereka fahami dan mereka yakini. Nilai tersebut mereka dapaatka (bersambung)

Selasa, 16 April 2013

PERMASALAHAN TEKNIS DI LAPANGAN DAN SOLUSINYA DALAM PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 2013

1.    Apakah peserta UN yang hamil atau sedang tersangkut masalah hukum berhak mengikuti UN?
Peserta UN yang hamil atau sedang tersangkut masalah hukum berhak mengikuti UN. Kelulusan yang bersangkutan dari satuan pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mengacu kepada kriteria kelulusan yang ada di dalam POS UN tahun 2013.

2.    Bagaimana jika ada kesalahan soal dalam distribusi, misalnya soal untuk provinsi A dikirim ke provinsi B?
Dengan adanya pencetakan naskah secara terpusat seperti sekarang ini, kemungkinan kecil akan terjadi kesalaan distribusi soal. Namun, jika hal itu terjadi, maka Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) dari perguruan tinggi di wilayah tersebut menghubungi pihak percetakan untuk menggantikan dengan naskah soal yang benar dan dibuatkan berita acara. Tanggungjawab pertecetakan adalah mengirimkan naskah UN ke tempat tujuan yang benar.

3.    Bagaimana pelaksanaan UN bagi peserta Tuna Netra yang tidak mendapatkan soal UN dalam bentuk Braille?
Bagi peserta Tuna Netra yang tidak mendapatkan soal UN dalam bentuk Braille, akan didampingi oleh guru pengawas untuk membacakan soal ujian. Untuk itu akan ada penambahan waktu 40 menit dengan jedah waktu 30 menit antar mata pelajaran.

4.    Bagaimana jika ada kekurangan/kerusakan naskah soal dan LJUN di ruang ujian?

a.    Jika terjadi kekurangan naskah soal dan LJUN di ruang ujian, maka diberikan satu set naskah soal dan LJUN cadangan yang terdapat di ruang lain atau sekolah/madrasah yang terdekat.

b.    Jika sebelum UN dimulai dan diketahui ada kekurangan naskah soal dan LJUN dalam jumlah yang banyak dan naskah soal dan LJUN cadangan tidak mencukupi, maka penyelenggara UN Tingkat Satuan Pendidikan diperbolehkan memfotokopi sesuai jumlah yang diperlukan. Pada saat proses fotokopy, siswa tetap menunggu sampai soal yang difotokopi datang, kemudian mereka memulai UN secara bersamasama. Pada saat memotokopi naskah, supaya diperhatikan naskahnya lengkap sepasang antara LJUN dengan naskah soalnya sehingga barcode di naskah soal sesuai dengan barcode di LJUN.

c.    Jika di sekolah atau wilayah tersebut tidak ada mesin fotokopi, maka siswa yang tidak mendapatkan naskah soal UN diberi soal yang sudah dikerjakan oleh temannya dan jawaban ditulis di kertas kosong sebagai pengganti LJUN. Selanjutnya soal dan jawaban dibawa ke tempat pemindaian (PTN) untuk dipindah ke LJUN dengan dibuatkan berita  acara. Dalam hal ini, di tempat pemindaian harus sudah disiapkan LJUNnya dan petugas pemindaian harus sudah dicoaching sebelumnya bagaimana mengantisipasi kejadian seperti ini.

d.    Jika di tengah-tengah pelaksanaan ujian peserta ujian menggunakan hapusan kemudian LJUNnya rusak atau robek, maka peserta ujian harus diberikan pasangan naskah soal dan LJUN yang baru. Peserta ujian tidak harus mengulang atau mengerjakan kembali soal-soal yang sudah dikerjakannya, tetapi cukup mengerjakan soal nomor berikutnya pada naskah soal (tidak pada LJUN) atau pada kertas kosong (HVS). Soal dan jawaban dikumpulkan dan dikirim ke tempat pemindaian. Kejadian ini harus dituangkan dalam berita acara. Sebelum pemindaian, petugas pemindai akan memindahkan jawaban tersebut ke LJUN terlebih dahulu. Kejadian ini dibuatkan berita acara di tempat pemindaian.

5.    Bagaimana jika ada peserta UN yang memperoleh naskah soal/LJUN yang cacat atau rusak?
Peserta UN yang memperoleh naskah soal/LJUN yang cacat atau rusak, maka naskah soal dan LJUN tersebut diganti dengan satu set naskah soal dari naskah soal/LJUN cadangan di ruang ujian atau ruang lain atau sekolah lain.

6.    Bagaimana penempatan peserta dalam ruang ujian jika ada yang kurang dari 20 peserta?
a.    Jika peserta UN di sekolah/madrasah sudah dibagi menjadi 20 peserta untuk setiap ruang ujian dan masih ada kelebihan < 5 (lima) peserta, maka pembagian peserta ujian di dalam ruang ujian diatur sebagai berikut:
                                                            Jumlah
Peserta    Ruang 1    Ruang 2
21           10           11
22           10           12
23           10           13
24           10           14
25           10           15
b.    Jika kelebihan peserta > 6 siswa, maka peserta tersebut ditempatkan dalam satu ruang tersendiri.

7.    Apa tindakan yang diambil jika terjadi pelanggaran POS UN oleh peserta UN atau pengawas ruang ujian?

a.    Untuk jenis pelanggaran ringan, cukup diberi peringatan secara lisan.

b.    Untuk jenis pelanggaran sedang dan berat, pengawas satuan pendidikan atau penyelenggara UN tingkat satuan pendidikan melaporkan temuan tersebut ke Posko UN untuk ditindaklanjuti.

c.    Laporan harus disertai dengan data-data dan bukti-bukti yang valid, akurat, dan dapat dipercaya.

8.    Untuk daerah terpencil yang sarana transportasinya terbatas, pengawas satuan pendidikan tidak bisa menyerahkan LJUN dari satuan pendidikan ke Perguruan Tinggi setiap hari. Apa yang harus dilakukan?
Dalam kondisi seperti itu, LJUN dapat disimpan di titik simpan soal terakhir sampai hari terakhir UN dengan pengamanan dari Kepolisian. Selanjutnya pengawas menyerahkan LJUN tersebut ke perguruan tinggi pada hari terakhir ujian dengan mempertimbangkan keberadaan sarana transportasi di wilayah tersebut.

9.    Apa yang harus dilakukan jika LJUN tidak dapat dipindai?
Petugas mengecek dan memastikan apakah masalah tersebut disebabkan oleh kerusakan mesin pemindai (scanner) atau disebabkan oleh LJUN. Jika kesalahan pada alat pemindai, maka perlu diperbaiki. Jika kesalahan pada LJUN maka perlu diteliti apakah ada kesalahan pengisian oleh peserta didik atau ada sebab lain. Petugas pemindai perlu membuat solusi atas masalah tersebut, misalnya menghitamkan jawaban siswa yang tidak terbaca, dan dituangkan dalam berita acara.


Sumber : http://bsnp-indonesia.org/id/bsnp/wp-content/uploads/2013/04/Draf-9-April-Strategi-Penanganan-Masalah-UN-.pdf

Minggu, 23 September 2012

Ospek Kini Masih Mengadopsi Cara Lama

Walaupaun waktu terus berlalu dan masa terus berganti, ternyata masih banyak cara-cara lama yang buruk yang sekarang masih berlaku karena jadi sebuah kebiasaan. Semestinya, semua orang berprinsip seperti motonya Nahdlatul Ulama "Melestarikan Nilai/Tradisi Lama Yang Baik, dan Mengambil Nilai-nilai Baru yang Lebih Baik".

Di dalam dunia kemahasiswaan, OSPEK (denga berbagai penamaannya kini) menjadi santapan yang wajib didalam menu awal masa-masa perkuliah, karena di dalam ospek kita akan diperkenalkan dengan berbagai mengenai kampus, sistem perkuliahannya, keorganisasiannya, kemahasiswaannya, adat istiadatnya, dan segala hal yang berkaitan dengan per-kampus-an.

Di zaman-zaman seberum Era Reformasi sudah menjadi rahasia umum bahwa pelaksanaan ospek itu identik dengan kekerasan (baik fisik maupun psikis), perpeloncoan dan sebagainya, bahkan sering disertai dengan pelanggaran HAM sampai menimbulkan korban luka maupun korban jiwa.

Seiring dengan berjalannya waktu, apalagi setelah era reformasi, cara-cara seperti diatas itu sudah ditiadakan, kegiatan OSPEK sendiri diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif, lebih bersifat intelektual dan lebih akademis.

Namun kenyataan dilapangan aksi-aksi senior kepada juniornya didalam kegiatan OSPEK ternyata masih saja dilakukan walaupun intensitasnya tidak seserem dan separah zaman dahulu. Hal tersebut tentu saja sangat mengkhawatirkan karena tidak mendidik sehingga harus segera dihilangkan.

Keadaaan tersebut di perparah dengan beberapa faktor, diantaranaya adalah pertama selalu terlibatnya para alumni yang terkesan mengganggu konsep acara dan kegiatan OSPEK yang telah di gariskan, sehingga Panitia tida kbisa berbuat banyak, dan faktor kedua adalah lemahnya pengawasan dan pembinaan dari pihak  Perguruan Tinggi atau Dosen sehingga kegiatan bisa seenaknya.

Alangkah baiknya apabila pendidikan orientasi terhadap calon penerus bangsa itu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pembekalan dan pembentukan intelektual, skill dan attitude supaya masa depan bangsa bisa lebih baik dan lebih berkualitas.

Selasa, 03 Januari 2012

Alumni dan Wahana Distribusi Kader

Istilah Senior-Junior Kian Meredup

Jasmerah!!!  Itulah tajuk pidato Ir. Soekarno sebelum lengser dari kursi kepresidenan. Pidato yang disampaikan ketika peringatan HUT RI Tahun 1966 itu merupakan ungkapan harapan dan juga himbauan kepada seluruh rakyat Indonesia supaya tidak begitu saja melupakan jasa-jasa para pahlawan yang telah mempersembahkan kemerdekaan bangsa kepada kita.

Memang benar, bahwa tidak akan ada hari ini tanpa adanya hari kemarin dan tidak akan ada kita tanpa pendahulu-pendahulu kita. Seyogyanyalah kita menghormati dan menghargai jasa-jasa para pendahullu kita yang telah melakukan berbagai macam hal sampai kita saat ini di warisi peninggalannya.

Para pendahulu, didalam dunia organisasi biasanya mendapatkan tempat "terhormat"  dengan berbagai macam gelar dan predikat yang disandangnya. apabila sang pendahulu telah meninggalkan organisasi, maka istilahnya menjadi purna atau alumni, sedangkan para pendahulu yang masih mendiami organisasi disebut senior tentunya adik angkatannya disebut dengan istilah junior.

Memang, pengistilahan senior dan junior pada akhir-akhir ini (terutama pasca bergulirnya reformasi) kurang begitu populer, sampai akhir-akhir tahun 1998 dan 1999 mungkin kita masih sayup-sayup mendengan istilah senior dan junior, namun ketika era tahun 2000-an sampai sekarang istilah tersebut kurang familiar lagi di telinga kita.

Entah siapa yang memulai pengistilahan tersebut, sampai-sampai beberapa pihak merasa tersiksa dengan keadaan seperti itu. Posisi senior seolah-olah leluasa melakukan "apapun" kepada Juniornya, dan posisi junior mau tidak mau menjadi objek penderita. Tengok saja, sebagai senjata pamungkas mempertahankan "status quo"-nya, sampai-sampai dibuat aturan yang menyebutkan : (pasal 1) senior tidak pernah salah dan (pasal 2) apabila senior salah, lihat pasal 1. Sebuah hukum alam yang -terpaksa- harus dijalani.


Alumni, dari Rekrutmen, Perawatan, Pembinaan hingga Distribusi Kader

Keberlangsungan sebuah organisasi, dapat ditentukan dari kontinyuitasnya dalam melaksanakan tiga tugas pokok organisasi. ketiga tugas pokok tersebut adalah : rekrutmen, pembinaan dan perawatan serta distribusi. Ketiga tugas tersbut hendaknya dilaksanakan secara istiqamah. (konsisten dan berkelanjutan) tanpa itu semua keberadaan organisasi tidak akan bertahan lama atau keberadaannya seperti halnya pepatah "wujuduhu ka adamihi" ada ataupun tiadanya sama saja.

Walaupun tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab mutlak para pengurus, seyogyanya para alumni juga mempunyai tanggung jawab yang sama, walau hanya sebatas tanggung jawab moril. Kenapa disebut tanggung jawab moril, dikarenakan alumni harus memerankan peranannya sebagai pembimbing dan penasehat, (tapi jangan sekali-kali mencampuri urusan teknis). Tentu semua alumni dimanapun ia pernah berorganisasi tidak ingin organisasi almamaternya menjadi tinggal sebuah nama dan sebuah cerita. oleh karena itu secara tidak langsung para alumni hendaknya berperan melaksanakan tugas-tugas diatas.

Selain tanggung jawab diatas, alumni memiliki tugas melakukan pendistribusian juniornya setelah ia selesai menghidmah di organisasi tersebut. Jangan sekali-kali mendistribusikan mereka ketika mereka masih ber-organisasi karena akan mengganggu satibitas pribadi maupun komunitas organisasi. ajaklah para kader potensial untuk bersama-sama memasuki era baru di kehidupan masyarakat. Tidaklah menjadi soal ketika mereka diajak untuk masuk dunia politik, birokrasi maupun professional selama itu sesuai dengan minat dan  bakatnya. Disanalah kita akan mendapatkan dan merasakan manfaat dari organisasi yang telah kita masuki bagi diri kita.


wallahu a'lam

Minggu, 01 Januari 2012

Tahun Baru dan Problematikanya

Baru saja gegap gempita pelepasan dan penyambutan pergantian tahun selesai. Tentunya momentum tersebut sangatlah berbekas di benak kebanyakan orang. Kesan-kesan indah sengaja diciptakan orang-orang untuk memeriahkan dan juga mengabadikan malam pergantian tahun baru tersebut.

Pada malam itu orang-orang seakan tumpah ruah dijalanan seakan-akan jalanan menjadi lautan manusia. Apalagi detik-detik menjelang pukul 00.00 semua sekanan-akan berhenti; aktivitas semuanya berhenti, yang bawa kendaraan berhenti, yang jalan kaki berhenti bahkan jantung pun seakan-akan berhenti, dan baru setelah pukul 00.00 itu semuanya bersorak sorai gembira, kembang api bertaburan mengiasi gelapnya malam, kendaraan kembali bergemuruh, suara terompet seakan-akan memenuhi telinga karena bisingnya, kegembiraan yang entah apa dasarnya, mungin mereka gembira karena bisa melewati malam pergantian tahun.

Benarkan orang-orang bahagia akan momentum pergantian tahun? dan haruskah bentuk kegembiraan itu dilaksanakan seperti kebiasaan yang dilakukan orang-orang; turun kejalan, menyalakan kembang api, meniup terompet, memacetkan jalan dan memproduksi polusi? Sampai sini penulis tidak habis pikir kenapa semuanya bisa terjadi dan siapa orang yang mula-mula melaksanakan tradisi tersebut.

Dibeberapa kota, malam pergantian tahun baru dilewati dengan beragam kegiatan. misalnya ada yang menyelenggarakan konser musik di alun-alun dan di mesjid agung yang nota bene berhadap-hadapan dengan alun-alun tersebut dilaksanakan Istighosah, dan dengan sengitnya suara yang keluar dari masing-masing pengeras suara bertarung saling mengalahkan.

Ya.... Tahun baru memang menjadi sebuah fenomena unik. Dilain pihak tahun baru bisa menghasilkan rizki bagi yang mampu memanfaatkannya. rizki dari penjualan kembang api, rizki dari penjualan terompet, dari ojek tikar, dari dagang asongan/ kaki llima dan banyak lagi. Dipihak lain, timbul berbagai masalah; Tauran akibat pergesekan orang, copet, jambret, bahkan pada tahun ini terjadi beberapa kasus penusukkan di beberapa tempat. Namun permasalahan yang terjadi dari dulu sampai saat ini, dimana-mana adalah SAMPAH. Sampah yang dihasilkan di malam tahun baru ini bisa ber meter-meter kubik.

Fenomena sampah ini disesalkan oleh beberapa pihak, termasuk masyarakat. Apabila berjuta-juta sampah dihasilkan di malam tahun baru, rasanya tong sampah yang ada pun tidak akan mampu menampungnya, mungkin tahun baru yang akan datang pemerintah harus bisa mengantisipasi hal itu sebelumnya, bisa saja dengan cara menempatkan tempat sampah yang representatif di tempat-tempat yang berpoensi akan terjadi pengumpulan masa, agar permasalahan sampah tersebut bisa ditangani sedikit demi sedikkit.

wallahu a'lam

Minggu, 11 Desember 2011

Bila ingin jadi penulis, sering-seringlah anda menulis

Banyak orang yang mempunyai cita-cita sebagai penulis, termasuk saya dan mungkin juga anda. banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh ketika seseorang menjadi penulis, diantaranya kita bisa mengasah kemampuan tentang isi dari tulisan kita, tulisan juga bisa mencerminkan akan kualitas diri kita dan tentu saja apabila sudah professional, tulisan juga akan menghasilkan uang.

Sebenarnya, apa sih penulis itu? ya, Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis, atau menciptakan suatu karya tulis. Secara Teoritis Menulis adalah kegiatan membuat huruf (angka) menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan.

Karya tulis bisa berupa karya tulis ilmiah: penelitian, makalah, jurnal; tulisan jurnalistik:artikel, opini,feature; sastraatau fiksi (termasuk prosa, novel, cerpen, puisi). Format tulisan penerbit berupa media cetak:buku, majalah, tabloid, koran; media on-line/internet: (website, blog; media jejaring sosial:facebook, twitter, google plus dan sebagainya.

Padanan istilah penulis adalah pengarang, penggubah, prosais, pujangga, sastrawan. Berpadan kata pula dengan pencatat, carik (Jawa), dabir (arkais), juru tulis, katib (Arab), kerani, klerek (arkais),panitera, sekretaris, setia usaha. Pelukis dan penggambar kadangkala juga dimasukkan sebagai padan kata penulis. (sumber: Wikipedia)

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang penulis? yang mula-mula harus kita lakukan bila ingin menjadi penulis adalah kita harus mengetahui  dan mencari informasi tentang cara-cara menulis, selanjutnya, kita juga harus mempunyai keterampilan-keterampilan dasar. Pada umumnya seorang penulis harus memiliki tiga keterampilan dasar, yakni
  1. Keterampilan berbahasa dalam merekam bentuk lisan ke tulisan, termasuk kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata.
  2. Keterampilan penyajian, seperti pengembangan paragraf, merinci pokok bahasa menjadi sub bahasan pokok, dan susunan secara sistematis.
  3. Keterampilan perwajahan, termasuk kemampuan pengaturan tipografi seperti penyusunan format, jenis huruf, kertas, tabel dan lain sebagainya.

Namun lagi-lagi itu hanya secara teoritis jika kita ingin menjadi penulis yang baik dan benar. yang lebih pentingnya lagi adalah jika kita ingin menjadi penulis, maka segeralah menulis. Tulis Apapun yang ingin anda tulis, masalah bagus atau jelek tulisan kita itu urusan nanti dan biarkanlah itu menjadi urusannya kritikus. Jika Tulisan kita baik, maka kita akan mendapatkan pujian dan apabila jelek maka tulisan kita akan dapat kritikan dan saat itulah hal yang sangat berharga, dan yang harus segera kita lakukan adalah memperbaiki tulisan kita.

Dikarenakan menulis adalah proses menuangkan ide, gagasan, pengetahuan dan pemikiran kita, yang harus kita lakukan sebelum menulis adalah memperkaya pengetahuan, pemikiran, ide dan gagasan kita yang salah-satu caranya bisa kita dapatkan lewat membaca, ya... kita harus MEMBACA.

Banyak hal-hal kecil bisa menghasilkan hal-hal yang sangat besar, termasuk tulisan. Dengan tulisan, aliran-aliran dunia bisa menyebar dan mempengaruhi pandangan hidup seseorang. Bila Bung Karno bisa mengguncangkan dunia dengan pemuda, maka kita pun bisa mengguncangkan dunia dengan tulisan kita. Selamat menulis, dan lakukanlah mulai dari sekarang. Wallahu a'lam.

Selasa, 07 Juni 2011

Organisasi dan Pendewasaan Diri

Apabila ada orang yang menyatakan bahwa organisasi membuat kita dewasa, saya adalah salah satu dari sekian orang yang sepakat dengan hal tersebut. ya, betapa tidak... jika kita menghayati, menjiwai, merenungi dan memaknai segala aktivitas di dalam organisasi, kita saat ini akan menjadi sesuatu yang berbeda dengan kita sebelum masuk di organisasi.

Pada hakikatnya, semua organisasi yang ada di muka bumi ini sama saja, sama-sama punya tujuan, punya pengurus, punya anggota, punya konstitusi, punya visi-misi, kegiatan dan lain sebagainya, walaupun itu semua ada yang tersurat dan ada juga yang hanya tersirat saja.

Namun ternyata, perilaku organisasi yang satu dengan yang lainnya, apabila di identifikasi secara mendalam ternyata memiliki perbedaan dan ciri khas tersendiri. dan ciri khas itulah yang akan membentuk kepribadian diri kita dalam berorganisasi yang pada akhirnya ketika banyak orang dari organisasi tersebut yang berperilaku sama, makan akan menjadi perilaku organisasi secara kolektif.

Terkadang ada orang yang berseloroh membagi organisasi menjadi dua bagian; pertama ada organisasi sajadah dan ada organisasi (maaf) haram jadah. organisasi sajadah diberikan kepada organisasi yang orang-orangnya taat dan patuh terhadap norma-norma dan aturan atau nilai yang berlaku dalam kehidupan, sedangkan organisasi haram jadah diberikan kepada organisasi yang orang-orangnya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Apabila Organisasi itu sebuah alat, maka alat itu tergantung dari siapa dan bagaimana yang menggunakannya. Organisasi sebaik apapun apabila dihuni oleh orang-orang yang tidak baik akan menjadi organisasi rusak, begitupun sebaliknya.

Karena karakter organisasi itu berbeda-beda, maka kita disarankan untuk memilah dan memilih organisasi yang sesuai dengan harapan dan minat kita. sebelum masuk, ketahui dan fahami dulu flatform nya, pedomannya, konstitusinya, visi, misi dan tujuannya, agar kita tidak merasa terlanjur terjebak dan terjebak dalam keterlajuran.

Organisasi dengan pelaku organisasi merupakan satu kesatuan utuh, oleh karena itu karakter organisasi akan membentuk perilaku diri kita dan karakter diri kita akan membentuk perilaku organisasi.

Organisasi merupakan wadah dan tempat berkumpulnya orang-orang, dan disanalah kita bisa mengetahui dan mengenali kebiasaan, sifat dan karakter seseorang. Organisasi pun bisa menjadi tempat kita untuk belajar, belajar kehidupan untuk nanti di masyarakat; belajar mengelaola sumber daya dan kekuatan, belajar mengelola emosi, belajar mengelola administrasi, belajar menaati aturan, belajar untuk menepati komitmen.

Ya, Organisasi memang mendewasakan diri. sekali lagi hayati, jiwai, renungi dan maknai lah... mungkin karena itulah organisasi ada di muka bumi ini. wallahu a'lam.

Manajemen Emosi

Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.

Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.

Di sini ia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekadar respon, tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa meskipun ada ratusan jenis emosi, namun ada empat emosi dasar di titik pusatnya (takut, marah, sedih dan senang), dengan berbagai variasi atau nuansanya yang mengembang keluar dari titik pusat tersebut.

Tepi luar ”lingkaran emosi” diisi oleh suasana hati yang secara teknis lebih tersembunyi dan berlangsung jauh lebih lama daripada emosi (misalnya jika suasana hati sedang marah, mudah tersinggung, kejadian kecil yang mengecewakan dapat memicu kemarahan seseorang). Di luar lingkaran suasana hati terdapat temperamen atau watak. Artinya seseorang dalam kondisi selalu dalam suasana hati dengan emosi tertentu, misalnya seseorang dengan temperamen pemarah akan selalu menunjukkan emosi marah setiap saat.

Di luar temperamen, barulah apa yang disebut dengan gangguan emosi seperti: depresi klinis, atau kecemasan yang tidak kunjung reda, kegelisahan dan sebagainya. Emosi secara fisiologis terdapat pada salah satu bagian dari sistem otak yang disebut sistem limbik, yaitu ”otak kecil” di atas tulang belakang, di bawah tulang tengkorak. Sistem limbik ini memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.

Emosi merupakan hal yang paling penting dalam perkembangan otak seseorang. Banyak orang mengira bahwa emosi secara keseluruhan ada di luar kendali dirinya, sehingga berbagai reaksi atas berbagai kejadian hidup terjadi secara spontan. Padahal sesungguhnya kemampuan kita dalam mengendalikan dan mengelola emosi kita merupakan faktor penentu penting keberhasilan atau kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Sejak diperkenalkan Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence - EQ) oleh Daniel Goleman pada 1995 tersebut, perhatian masyarakat mulai beralih dari kecerdasan intelektual (IQ) semata kepada kecerdasan emosional. Meskipun sampai saat ini, setidaknya menurut pandangan kami, upaya pendidikan formal masih hanya ditekankan pada penguasaan kecerdasan intelektual - IQ semata.

***

Keterampilan yang berhubungan dengan emosi (dikenal dengan istilah soft-skills) hampir terlupakan dalam sistem dunia pendidikan kita dibandingkan dengan penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi (hard-skills). Padahal keberhasilan seseorang amatlah ditentukan oleh kemampuannya menguasai berbagai keterampilan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa orang tidak akan sukses dalam bidang apa pun kecuali jika ia senang dengan apa yang digelutinya itu.

Pernahkah Anda mengalami tidak menyukai satu mata pelajaran tertentu, atau tidak suka dengan guru yang mengajar mata ajaran tersebut? Saya dapat pastikan bahwa Anda tidak akan memperoleh nilai bagus untuk mata pelajaran itu. Penelitian menunjukkan bahwa emosi biasanya memicu seseorang untuk berprestasi. Oleh karena itu, kecerdasan emosional menjadi lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual atau prestasi akademik. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain) dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan mampu mengendalikan stres.

Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial (social skills). Keterampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi ini antara lain misalnya: kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi, dan sebagainya. Sebagian besar yang menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup adalah kecerdasan emosional ini atau EQ (emotional intelligence). Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi biasanya menonjol dalam kehidupan nyata, misalnya menjadi pemimpin, memiliki hubungan luas, mudah bergaul, mempunyai karakter yang baik dan disiplin diri, serta memiliki kemampuan-kemampuan dasar untuk mencapai kesuksesan hidup.

Dibanding EQ, kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang kira-kira 20 persen untuk menentukan kesuksesan seseorang.

***

Bisakah kita meningkatkan kecerdasan emosi kita? Para filsuf besar seperti Socrates maupun Lao Tsu menunjukkan bahwa inti kecerdasan emosional adalah kesadaran akan perasaan diri sendiri. Artinya bahwa semakin kita mengenali diri sendiri, semakin meningkatlah kecerdasan emosi kita. Inilah pesan pokok manajemen diri yaitu mengenali dan mengelola diri (termasuk emosi kita), sehingga akhirnya kita dapat meningkatkan kecerdasan emosi kita yang merupakan penunjang keberhasilan kita dalam kehidupan ini.

Berikut ada 7 keterampilan yang perlu kita perhatikan dalam upaya meningkatkan kecerdasan emosional kita:

1. Mengenali emosi diri. Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan.

Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi:
Takut. Emosi ketakutan (termasuk kegelisahan, kecemasan, kekuatiran, teror) merupakan antisipasi ke hal-hal buruk yang mungkin terjadi yang perlu dipersiapkan. Justru jika kita merasa takut kita justru mengirim pesan untuk siap siaga. Ketakutan itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi tindakanlah yang mengatasi rasa takut dan masalah yang mungkin terjadi.

Sakit Hati. Perasaan sakit hati merupakan emosi yang paling mendominasi hubungan antarmanusia, baik pribadi maupun profesional. Sakit hati biasanya disebabkan oleh perasaan kehilangan atau memiliki harapan yang belum terpenuhi. Perasaan ini muncul jika mengharapkan orang menepati janji tetapi ingkar. Rasa kehilangan keakraban atau kepercayaan dapat menciptakan sakit hati.

Marah. Termasuk di dalamnya emosi kebencian, kegeraman bahkan mengamuk. Pesan atas kemarahan adalah berarti adanya suatu aturan atau standar penting yang dipegang dalam hidup telah dirusak oleh orang lain atau bahkan oleh diri sendiri. Kemarahan juga bisa diakibatkan oleh ketakutan atau rasa kehilangan yang menumpuk, sehingga meledak menjadi kemarahan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu dapat melepaskan emosi negatif sekecil apapun agar tidak meledak menjadi kemarahan yang destruktif bagi diri dan orang lain.

Frustrasi. Kapanpun kita merasa telah terus menerus berusaha tetapi tidak atau belum memperoleh hasil yang kita harapkan, kita cenderung merasakan emosi frustasi. Pesan emosi frustasi adalah sinyal positif, artinya kita percaya bahwa kita dapat melakukan lebih baik dari yang sedang kita lakukan. Kita hanya perlu mengubah pendekatan, persepsi atau perilaku kita terhadap masalah yang kita hadapi atau upaya yang sedang kita lakukan.

Kecewa. Kekecewaan terjadi jika kita merasa bahwa kita gagal atau kehilangan sesuatu selama-lamanya. Pesan emosi kecewa menunjukkan adanya harapan - tujuan yang seharusnya terwujud - mungkin tidak terjadi, sehingga kita perlu mengubah harapan atau menyesuaikan dengan situasi dan mengambil tindakan dan mencapai tujuan baru.

Rasa Bersalah. Perasaan atau emosi ini muncul ketika kita telah melanggar salah satu standar yang kita pegang. Emosi ini nampaknya mudah diatasi ketika kita merasa tidak ada orang lain yang mengetahui pelanggaran yang kita lakukan. Namun sesungguhnya dampaknya sangat berbahaya di masa mendatang, apalagi jika perasaan itu menumpuk dalam bawah sadar. Rasa bersalah yang terus menerus dapat menyebabkan stres dan mengurangi daya tahan tubuh serta menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Oleh karena itu penting sekali untuk segera melepaskan rasa bersalah itu. Kesepian. Perasaan ini muncul ketika kita merasa sendiri atau terpisah dari lingkungan orang lain. Ada dua macam tindakan yang dapat kita lakukan ketika rasa ini muncul. Pertama adalah dengan memanfaatkan emosi kesepian untuk memunculkan energi kreatif yang ada dalam diri kita, sehingga biasanya para seniman atau artis menjadi kreatif ketika mereka merasa kesepian. Hal kedua adalah dengan bertindak untuk mulai membina hubungan baru dengan orang lain. Mengenali emosi diri merupakan bentuk kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan kendali atas hidup kita.

***

2. Melepaskan emosi negatif Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan kita untuk memahami dampak dari emosi negatif terhadap diri kita. Sebagai contoh, keinginan untuk memperbaiki situasi ataupun memenuhi target pekerjaan yang membuat kita mudah marah ataupun frustrasi seringkali justru merusak hubungan kita dengan bawahan maupun atasan serta dapat menyebabkan stres. Jadi selama kita dikendalikan oleh emosi negatif kita justru tidak bisa mencapai potensi terbaik dari diri kita. Oleh karena itu kita membutuhkan keterampilan untuk dapat menghilangkan emosi negatif sebelum perasaan itu merusak kinerja kita atau kinerja organisasi secara keseluruhan. Kebanyakan orang mengatasi emosi negatif dengan mengekspresikannya (expressing limiting emotions) ataupun dengan menahan (suppressing) emosi tersebut.

Kedua hal ini justru malah menimbulkan dampak negatif. Ekspresi dari emosi seringkali bersinggungan dengan hubungan kita dengan orang lain, sehingga semakin ekspresif kita dalam menyatakan emosi semakin merusak hubungan personal maupun profesional kita.

Menahan emosi di lain pihak dapat menyebabkan tekanan atau stres, sehingga pada gilirannya akan merusak diri kita sendiri. Cara terbaik adalah dengan melepaskan emosi negatif (releasing limiting emotions) melalui teknik pendayagunaan pikiran bawah sadar, sehingga kita maupun orang-orang di sekitar kita tidak menerima dampak negatif dari emosi negatif yang muncul. Ketika kita sudah menguasai keterampilan menghilangkan emosi negatif, maka kita dapat meningkatkan kemampuan kita dalam membina hubungan dengan orang lain, berkomunikasi, kita menjadi semakin optimistis, percaya diri, mudah menyesuaikan diri dan sebagainya.

***

3. Mengelola emosi diri sendiri. Kita jangan pernah menganggap emosi negatif atau positif itu, baik atau buruk. Emosi adalah sekadar sinyal bagi kita untuk melakukan tindakan untuk mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Kemampuan kita untuk mengendalikan dan mengelola emosi dapat membantu kita mencapai kesuksesan. Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya.

Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.

4. Memotivasi diri sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation) dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional - menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati - adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.

5. Mengenali emosi orang lain Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.

***

6. Mengelola emosi orang lain. Jika keterampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antarmanusia. Keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antarkorporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain (baca: membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin tinggi kinerja organisasi itu secara keseluruhan.

7. Memotivasi orang lain Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan handal. Jadi sesungguhnya ketujuh keterampilan ini merupakan langkah-langkah yang berurutan. Kita tidak dapat memotivasi diri sendiri kalau kita tidak dapat mengenali dan mengelola emosi diri sendiri. Setelah kita memiliki kemampuan dalam memotivasi diri, barulah kita dapat memotivasi orang lain. ***

Sumber: www.sinarharapan.co.id

Jumat, 20 Mei 2011

Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional adalah Masa dimana Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-Tokoh

Tokoh-tokoh yang mempolopori Kebangkitan Nasional, antara lain yaitu :
  1. Sutomo
  2. Gunawan
  3. Dr. Tjipto Mangunkusumo
  4. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara)
  5. dr. Douwes Dekker
  6. dan Lain-Lain
Asal Usul Kebangkitan Nasional
Selanjutnya pada 1912 berdirilah Partai Politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tapi diawalai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo.Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu.Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda), 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena "boleh memilih", keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.

Saat ini, Tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Rabu, 30 Maret 2011

Jamkesda

JAMINAN KESEHATAN DAERAH


I. Apakah Kesehatan itu Penting?

Tentu saja penting. Buktinya, kalau Anda sakit, Anda pasti tidak bisa bekerja. Kalau Anda bukan PNS atau pegawai perusahaan mapan, Anda tidak bekerja, artinya Anda tidak memperoleh pendapatan. Anak Anda yang sakit, jadinya tidak bisa masuk sekolah. Tambahan lagi, sakit membuat hidup Anda tidak nyaman. Bukan tidak mungkin, gara-gara sakit, Anda jadi beban seluruh keluarga yang harus mengurus Anda. Jadi, kesehatan itu pasti penting.


II. Apakah Semua Orang Mampu untuk Mengatasi Gangguan Kesehatan?

Walaupun kesehatan itu penting, tidak semua orang mampu berobat kalau mereka sakit. Salah satu kendala utama adalah masalah biaya. Apalagi kalau Anda harus dirawat inap di rumah sakit. Bisa-bisa Anda harus menjual tanah dan rumah untuk berobat.

III. Lalu Harus Bagaimana ?

Jangan sampai Anda hanya bisa berobat, hanya jika Anda punya uang. Puskesmas gratis di Kabupaten Sumedang, tidak menjawab kesulitan Anda ketika Anda harus berobat ke rumah sakit. Jamkesmas baru bisa dinikmati oleh sebagian kecil warga. Askes, hanya bisa dinikmati oleh PNS. Jamsostek hanya bisa dinikmati oleh para pekerja perusahaan formal. Bagaimana dengan Anda yang bukan PNS, bukan pekerja perusahaan formal, bukan pula orang kaya?
Jaminan Kesehatan Daerah sedang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Anda. Perda no. 7 tahun 2010 tentang Jamkesda sudah disahkan, untuk menjadi dasar pengembangan Jamkesda. Bagaimana cara Jamkesda menjamin Anda selalu dapat berobat, tanpa terkendala oleh keterbatasan biaya? Bagaimana Jamkesda menjamin Anda berobat di Puskesmas, di Bidan, di Klinik swasta, di tempat mana pun yang Anda percaya? Bagaimana Jamkesda menjamin Anda mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas? Bagaimana Jamkesda menjamin Anda ikut memantau dan mengawal kualitas penyelenggaraan Jamkesda oleh Lembaga Pengelola?
Temukan jawaban atas semua pertanyaan ini di acara ”SOSIALISASI JAMKESDA”. Kami mengundang Anda, untuk mengenal lebih dekat Jamkesda.

Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca


Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.

Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah kaca untuk masing-masing benda langit tadi akan dibahas di masing-masing artikel.

Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat

Penyebab
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Energi yang masuk ke Bumi:
25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
25% diserap awan
45% diserap permukaan bumi
5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi

Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Akibat
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

Kamis, 11 November 2010

Age of Empire

Seri Age of Empires (disingkat AoE) adalah sebuah seri game real-time strategy (RTS) populer, yang dimulai pada 1997, dikembangkan oleh Ensemble Studios dan dipublikasikan oleh Microsoft Games. Sampai saat ini ada 3 bagian dari seri ini, masing-masing memiliki sebuah paket ekspansi, sehingga terdapat keseluruhan 6 game bertitel Age of Empires.

Age of Empires dan Rise of Rome
Age of Empires adalah game pertama dari seri ini. Ia merupakan salah satu game real-time strategy pertama yang bertemakan sejarah. Temanya ini berkisar diantara zaman batu sampai zaman besi. Rise of Rome merupakan paket ekspansi bagi Age of Empires.

Age of Empires II: The Age of Kings dan The Conquerors
Setelah suksesnya Age of Empires, Microsoft meluncurkan Age of Empires II (AoE II) pada 1999. Game ini merupakan improvisasi dari pendahulunya. Dalam AoE II diperkenalkan sistem pertempuran Batu-Gunting-Kertas, yang kemudian menjadi populer di dalam game RTS.The Conquerors merupakan paket ekspansi. Dalam AoE II dan ekspansinya, tema berkisar dari zaman kegelapan hingga awal zaman imperial dan penaklukan.

Age of Empires III dan The War Chiefs
Diluncurkan pada 18 Oktober 2005, Age of Empires III (AoE3) merupakan kelanjutan dari game sebelumnya. AoE3 bertemakan zaman penaklukan Amerika oleh bangsa-bangsa Eropa. Dalam AoE3 terdapat 8 bangsa Eropa yang dapat dimainkan yaitu Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis, Belanda, Rusia, Jerman, dan Turki Utsmani. Dalam The War Chiefs, yang merupakan paket ekspansi, pemain juga dapat memainkan 3 bangsa asli Amerika yaitu bangsa Iroquis, Sioux dan Aztek.

Senin, 22 Maret 2010

Lieur Ngabandungan UN

Nya, kabuktian ayeunamah omongan saya teh.. keureut tah ceuli, (tapi entong kabeh) lamun misalkan UN ayeuna teu di bejaan dei siga taun2 anu katukang (dina teu dibejaan na pge, pasti aya tim anu ngoreksi jawaban siswa... ah, geus jadi rusiah umum lain).

cape... cape, bener2 cape. caha wae oge anu ngabandungan na pasti cape. coba we bayangkeun! (sok mulai ngabayangkeun....... selesai) sakola cape2 (3) tilu taun di tangtukeun ku ngan saukur 3 (tilu) poe, sugan lieurrrr.... geus we sakalian ngiluan paket B atawa paket C, waktu bisa ngirit, duit bisa ngirit, kuliah ge tetep bisa make ijazah paket C mah

ceuk saya oge teu kudu cape2 make jeung kudu pengayaan/ les sagala rupa, ka lieur2... mayar deuih, mendingan duitna pake meuli baso.

jelema zaman ayeunamah khususna di Indonesia sok ngabobodo sorangan (mana pantes Indonesia mah bararodo). ceuk saha ku alatan ayana UN tingkat pendidikan Indonesia ningkaT? sok ceuk saha? (jarawab ath) kamuplase kabeh oge... sarua jeug baheulamah indonesia teh dahar jagong, ayeunamah dahar roti, tapi dahar rotina dina impian. mending mana?

kabeh nu terlibat di UN pasti cape. murid mah geus puguh cape hate, cape pikiran, guru geus puguh kudu ti suksruk ti dungdung "minterkeun barudak supaya lulus UN" kepala sakola sarua cape hate, mun aya nu teu lulus, rek dikamanakeun beungeut sakola lamun aya nu teu lulus. bisa2 taun hareup moal aya nu daftar ka sakola eta, mangkaning mun muris jadi saeutik, bakal ngurangan jatan duit BOS anu bisa di utak-atik teh... so sangsara meureun.

(dinas pendidikan) kementrian pendidikan nasional di kabupaten ge sarua, di teken ku bupati supaya di kabupaten eta lulus kabeh, pon kitu deui kanwil di profinsi nepikeun ka mentri pendidikan sorangan bakal kawiwirang. nu akhirna kabe "menghalalkan" berbagai macam cara nupentingmah murid/siswa bisa lulus.

mendiknas geus cumarita, tempo dina koran atawa dina tipi (TV) tatangga, UN sekarang semuanya sudah di perbaiki, mulai dari sistem distribusi, pengamanan dan lain2... buktina? barudak subuh2 geus meunang jawaban... atawa geus meunang sms teuing ti saha tah... ti jurig meureunan.

mun geus kieu rek kumaha ayeuna? rek terus wae ngabobodo diri, ngabobodo masa depan?

teu ngiringan ah abdimah....

Rabu, 27 Januari 2010

UN dan Diskriminasi

Tolak UN...!

Ujian Nasional biasa disingkat UN adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.

Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan. Pembenahan mutu pendidikan dimulai dengan penentuan standar.

Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan. Yang di maksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.

Manfaat pengaturan standar ujian akhir:

  1. Adanya batas kelulusan setiap mata pelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi minimum.
  2. Adanya standar yang sama untuk setiap mata pelajaran sebagai standard minimum pencapaian kompetensi.

Minggu, 13 September 2009

Tradisi Ngadulag

Hilang Tradisi Ngadulag

(klik-galamedia.com, 13/9)Rata PenuhTIDAK terasa, bulan Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Umat Islam pun sebentar lagi akan menyambut hari kemenangan, setelah satu bulan lamanya melaksanakan ibadah puasa (saum) di bulan Ramadan. Tentunya hari kemenangan ini sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin di dunia, tidak terkecuali oleh masyarakat Jawa Barat.

Dalam menyambut hari kemenangan (Idulfitri) ini, banyak cara yang dilakukan masyarakat. Pada umumnya, masyarakat Jabar menyambut hari kemenangan dengan pesta ngadulag (menabuh beduk, red) keliling kampung. Tradisi ini sudah turun-temurun, sekalipun belum diketahui sejak kapan masyarakat Jabar melaksanakan tradisi ngadulag menyambut Idulfitri.

Ngadulag adalah seni keterampilan menabuh beduk yang ditunjukkan masyarakat ketika menyambut bulan Ramadan, membangunkan orang sahur, sampai menyambut Hari Raya Idulfitri sambil mengumandangkan takbiran.

Pada awalnya, beduk merupakan alat bunyi tradisional sebagai tanda pemberitahuan yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa keagamaan, khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Seperti di banyak daerah di Jawa Barat, beduk dibunyikan sebagai penanda waktu salat, ditabuh dengan berirama menandakan dimulainya ibadah puasa Ramadan, atau menjelang Hari Raya Idulfitri atau memeriahkan suasana takbiran ketika Lebaran.

Di daerah di Jawa Barat, beduk memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagaimana disebutkan di atas. Namun yang sangat menarik adalah bahwa tabuhan beduk di tiap-tiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan daerah lainnya. Sehingga, lahirlah sebuah istilah ngadulag yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedkg. Kini keterampilan menabuh beduk telah menjadi bentuk seni yang mandiri, yaitu seni ngadulag.

Ngadulag berasal dari kata dulag. Kata ini mengacu pada tabuhan-tabuhan beduk yang memakai irama tertentu (Kamus Basa Sunda Sacadibrata, 2005:66), atau beduk yang ditabuh dengan berlagu (Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, 2006:177). Secara umum, bunyi dulag adalah dulugdugdag. Ada juga yang mendengarnya baragadagdag, yaitu ketika beduk dititirkeun setelah imam membaca khotbah saat salat Idulfitri atau Iduladha.

R.A. Danadibrata (2006:177) dan Rachmatullah Ading Affandie atau RAF (1984:50) merinci jenis-jenis dulag. Pertama, ada dulag kuramas, yaitu menabuh beduk untuk memberikan tanda berkeramas karena esoknya mulai berpuasa. Kedua, dulag jaman atau dulag saur.

Jenis tabuhan ini dilakukan ketika sahur, biasanya ditabuh pukul 02.00. Sepuluh menit dulag dipukul secara perlahan-lahan, berhenti beberapa menit, dulag perlahan lagi, kemudian berhenti lagi. Demikian seterusnya hingga pukul 03.00.

Selanjutnya, ada dulag taraweh dan dulag tadarus, yang menandai saat-saat salat tarawih dan tadarusan. Satu lagi, dulag fitrah atau dulag lilikuran, ialah menabuh beduk menjelang masuk malem lilikuran, yaitu malam tanggal 21 Ramadan hingga 1 Syawal. Jenis dulag ini difungsikan sebagai aba-aba dan pemberitahuan untuk membayarkan zakat fitrah.

Ngadulag mempunyai cara tabuh yang berbeda sehingga tidak akan tertukar antara satu jenis ngadulag dengan yang lain. Oleh karena itu, tidak mengherankan, umpamanya, Usep Romli dalam Dulag Nalaktak (2006) menerangkan bagaimana cara agar ngadulag terdengar merdu, tanaga diatur, rasa dipanteng. Ambeh gumulung, ambeh karasa nikmatna ku nu nakol jeung ku nu ngadengekeun. Ulah dapon beledug. Caranya, beduk ditabuh dengan anca, ngagalindeng, malah sada ngahariring, sehingga bila kita renungkan, yang akan keluar dari beduk itu, misalnya, tirilik jangkrik, jangjang kujang/tirilik jangrik, jangjang kujang.

Sayang, tradisi ngadulag di kalangan masyarakat Jabar ini sekarang sangat sulit dijumpai, terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Sedangkan di masyarakat perdesaan, tradisi ngadulag masih bisa ditemui sekalipun tensinya jauh berkurang dari sebelumnya.

Hadirnya pengeras suara dan alat komunikasi lainnya, menjadi penyebab hilangnya tradisi ngadulag di masyarakat kota. Kurangnya minat generasi muda terhadap tradisi ngadulag pun dijadikan salah satu penyebab lainnya. Padahal, untuk bisa ngadulag tidak diperlukan keahlian tertentu.

"Yang penting ada kemauan dan niat untuk nakol beduk dengan berirama," ungkap salah seorang seniman Bandung, Adja Sondari saat dimintai komentarnya.

Menuru Adja, konon, dulu tradisi ngadulag tidak pernah lepas dari masyarakat Jabar. Adja tidak mengetahui persis kapan tradisi ngadulag berkembang di tengah masyarakat Jabar. Namun yang pasti, awalnya dari kebiasaan masyarakat memukul beduk untuk menunjukkan atau menandakan waktu salat. (kiki kurnia/"GM"/berbagai sumber)**