--= Sekedar Coretan =--
"Katempo Ayana, Kadenge Sorana jeung Karasa Mangfaatna"

Sabtu, 07 November 2015

SIFAT JURIG ANU KUDU DITURUTAN KU JELEMA

TUYUL : Sanajan can sakola tapi geus bisa ngala duit sorangan
KUNTI : Sanajan hirup susah tapi tetep di sangharepan ku seuri jeung seuseurian
NYI RORO KIDUL : Sanajan cicing di laut, bajuna tetep sopan tara kabita make bikini
BUTA HEJO : teu boga kasakit maag kusabab disiplin dina waktu dahar
POCONG : Boga prinsip sederhana tara gunta ganti baju sanajan di griya loba piliheun
JURIG JARIAN : tetep satia maca tulisan ieu nepi ka beres bari dina jero hatena sura-seuri sorangan

Jumat, 16 Oktober 2015

Intruksi Seknas Pendamping Desa

Sekretariat Nasional penerimaan pendamping desa kemarin telah menginteruksikan seluruh calon pendamping desa seluruh Jawa barat, agar bersabar menanti kelanjutan tahapan seleksi. Sabar... sabar, sing salabar nya! Hihihi....

Minggu, 11 Oktober 2015

Kiyai Wahab dan Nasionalisme

Kiyai Wahab (Abdul Wahab Chasbullah) merupakan nasionalis sejati, tidak salah apabila beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional. Jasa-jasa beliau baik di zaman penjajahan Belanda, Dai Nippon, maupun pada masa revolusi fisik, jelas2 tak terbantahkan. Apalagi di era pemerintahan Presiden Soekarno (Bung Karno) yang cenderung di infiltrasi golongan kiri (Komunis/PKI), Mbah Wahab senantiasa menjaga keseimbangan politik (dengan segala resiko) agar pancasila tetap utuh sebagai Dasar Negara, dan tidak tergantikan oleh idiologi komunis.

Nasionalisme Islam, merupakan sebuah konsep Kiai Wahab tentang praktik kenegaraan yang dipadukan dan didasarkan dengan motivasi keagamaan.

Nasionalisme Islam yang dikembangkan oleh Kiai Wahab telah mengoreksi paham nasionalisme barat sekuler. Sebab sebagaimana diketahui, nasionalisme selama ini dibenturkan dengan agama akibat trauma masyarakat eropa dengan dominasi greja abad pertengahan. Dengan mendasarkan kebangsaan dari nilai-nilai Islam, Kiai Wahab telah meletakkan dasar bagi konsep nasionalisme religius, dan Islam yang nasionalis.

Nasionalisme Islam Kiai Wahab ini memuat dua makna. Disatu sisi kecintaan pada tanah air dan pembelaannya dari penjajah, pun juga atas kenyataan historis-kultural, bahwa wilayah nusantara secara sosiologis merupakan wilayah Islam  (dar al-islam) sebab didalamnya umat muslim bebas melaksanakan syariah, serta pernah berkuaaanya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dimana hukum islam ditegakkan.

Disisi lain, nasionalisme menempatkan perspektif politik sunni sebagai kekhasan Islam didalam paham nasionalisme. Kekhasan ini merupakan kebutuhan kaum sunni akan pemerintahan yang sah, untuk mengundangkan syariah Islam. Tentu pengundangan ini dilakukan hanya terhadap hukum yang bisa diundangkan  (wadh'ul ahkam fi halati imkaniyyati wadh'ihi). Oleh karena itu, orientasi nasionalisme sunni tidak semata pendirian negara modern demi kebaikan publik dalam sistem demokrasi, melainkan penegakan hukum Islam serta penjagaan kehidupan agama.  Ini terkait dengan tujuan pendirian  negara menurut sunni yang dipahami sebagai penerusan misi kenabian, yakni penegakan syariah dan perwujudan kemaslahatan umat, sebagaimana diisyaratkan oleh al-mawardi. Dalam kerangka ini, fikih menjadi metode utama dari pemikiran dan penentuan sikap politik sunni.

Dalam kerangka NU, Nasionalisme Kiai Wahab menunjukkan bahwa pendirian NU memiliki motivasi gerakan kebangsaan. Ini terlihat dari rentetan pendirian Nahdlatul Wathon yang merupakan gerakan pertama yang menjadi embrio dari Nahdlatul Ulama.

Kamis, 27 Agustus 2015

Yang Langka Itu..

Bismillaah

Yang langka itu...
Istri yg tunduk patuh pada suami.
Yg senantiasa berseri2 saat dipandang.
Yg ridha terdiam saat suami marah.
Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara.
Tercantik di hadapan suami.
Terharum saat menemani suami beristirahat.
Tak menuntut keduniaan yg tidak mampu diberikan suaminya.
Yang sadar bahwa ridhaNya ada pd ridha suaminya.

Yang langka itu...
Suami yg mengerti bahwa istrinya bukan pembantu.
Sadar tak melulu ingin dilayani.
Malu jika menyuruh ini itu krn tau istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah.
Yg tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang krn sadar itulah resiko hadirnya amanah2 yg masi kecil.
Yg sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya.
Yg rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga krn rasa sayangnya thd istrinya yg kelelahan.

Yang langka itu...
Anak lelaki yg sadar bahwa ibunya yg paling berhak atas dirinya.
Yg mengutamakan memperhatikan urusan ibunya.
Yg lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak2nya.
Yg sadar bahwa surganya ada pd keridhaan ibunya.

Yang langka itu...
Orang tua yg sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya.
Yg selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tdk menyuruhnya kpd perkara munkar.
Yg sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pd ridha suaminya.

Yang langka itu...
Seorang ibu yg meskipun tau surga berada di bawah telapak kakinya.
Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tsb saat anaknya ada kelalaian thdnya.
Yg selalu sadar bahwa mgkn segala kekurangan pd anak2nya adalah hasil didikannya yg salah selama ini.
Yg sadar bahwa jika dirinya salah berucap atau doa keburukan maka malaikat akan mengijabah doanya.

Yang langka itu...
Anak yg senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dlm keheningan sepertiga malam terakhir.
Meskipun sehari hari dlm kesibukan rumah tangganya.
Dalam kesibukan usahanya.
Dalam kesibukan pekerjaannya.

Yang langka itu...
Orang orang yg saling memberikan uzur.
Yg saling memaklum

Senin, 17 Agustus 2015

Kultwit Kang Aher (Ahmad Heryawan @aheryawan) Tentang Merdeka dan Allahu Akbar

Assalamualaikum taruit, kumaha damang? Kita coba bahas tentang #Merdeka #Allahuakbar"
1. Allahu Akbar! Merdeka! Itulah sepasang kalimat yang dulu menghantarkan Indonesia merdeka"

2. Allahu Akbar! Merdeka! Dua kalimat itu pula bagaikan dua sayap yg akan menghantar Indonesia terbang mencapai cita2 bangsa #ID70"

3. Allahu Akbar! adalah seruan pengagungan kepada Sang Pencipta karena yakin kemerdekaan adalah rahmat Allah Yg Maha Kuasa #ID70"

4. Merdeka!  Adlh seruan ajakan agar NKRI terbebas dr belenggu asing.  Itulah cita agar bangsa ini bebas menentukan nasibnya sendiri #ID70"

5. Allahu akbar! Merdeka! dulu keluar dari lisan para pejuang pendahulu kita, dan masih relevan utk kita gaungkan sampai saat ini #ID70"

6. Allahu Akbar! Merdeka! adalah slogan yang tak terpisahkan,  terpaut satu sama lain: Religius dan Nasionalis #ID70"

7. Allahu Akbar! Merdeka! mengajarkan bahwa religiusitas dan nasionalisme harusnya berpadu dalam pribadi setiap anak bangsa #ID70"

8. Nasionalis sejati selayaknya juga seorang religius, karena sadar bahwa tanah air yg dicintainya adalah ciptaan-Nya #ID70"

9. Religius sejati adh jg nasionalis krn faham bhw cinta tanah air itu fitrah drNya & membela tanah air krnNya akan diridhoiNya #ID70"

10. Di hari kemerdekaan ke 70 ini, sepantasnya kita sampai kepada kematangan jiwa yang mampu memadukan religiusitas dan nasionalisme #ID70"

11. Mari kita hilangkan sekat antara kaum religius dan nasionalis, karena tidaklah lengkap salah satu tanpa yang lainnya #ID70"

12. Religiusitas tanpa nasionalisme (cinta tanah air) karenaNya itu BOHONG. Nasionalisme tanpa religiusitas itu KOSONG #ID70"

13. Krn nasionalisme sejati niscaya berpadu dg religiusitas, maka mari wujudkan cinta kpd tanah air dg kerja2 nyata yg
diridhoiNya #ID70"

14. Mari berlomba2 dlm kebaikan. Kaya amal nyata tanpa banyak kata  wujudkan Indonesia Jaya. Agar para pahlawan tersenyum di sana #ID70"

15. Allahu Akbar! Merdeka! mari kita gaungkan kembali, agar negeri ini diberkahi-Nya dan bebas dari ketergantungan kpd bangsa lain #ID70"

16. Allahu Akbar! Merdeka! Kita gemakan, agar bumi nusantara menjadi taman2 kehidupan yang indah, bagaikan surga dunia #ID70"

17. Allahu Akbar! Merdeka! kita gelorakan, agar insan2 nusantara mjadi kontributor peradaban dunia dg karya2 utama penuh maslahat #ID70"

Jumat, 14 Agustus 2015

Bendera Merah Putih

Bendera merah-putih sudah melintasi sejarah panjang. Menghormati bendera bukan berarti memuliakan bendera itu sendiri, tapi menghargai sejarah dan simbol kebangsaan dan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan airmata.

Hormat Bendera

Menghormati bendera bukan untuk memuliakannya tapi menghargai nilai kebangsaan di dalamnya

Rabu, 12 Agustus 2015

Sms dari Humas MPR RI

Konvensi Ketatanegaraan, Sidang Paripurna MPR RI, Jumat 14 Agustus 2015 (08.00-09.30 WIB), dengan Agenda Pidato Presiden tentang Kinerja Lembaga-Lembaga Negara.