--= Sekedar Coretan =--
"Katempo Ayana, Kadenge Sorana jeung Karasa Mangfaatna"

Sabtu, 27 Juni 2015

Manajemen Perbedaan

Beda itu wajib. Mengapa? karena kita sama. Sama? ya sama-sama beda. (Gus Candra Malik)

Tuhanpun menciptakan Manusia tidak ada yang sama, bahkan dari sekitar 7 milyar penduduk dunia yang ada saat ini semuanya berbeda baik fisik, sifat, perilaku, karakter, dan lainnya, walau kembar sekalipun.

Ini adalah realitas dan sunnatullah. Oleh karen itu, organisasipun mau tidak mau harus membeda2kan orang berdasarkan kapabilitas dan kecakapannya masing2 dalam sebuah posisi yang berimplikasi pada tugas dan peran (tupoksi)nya itu. Adanya fungsi staffing, organizing dan directing dalam sebuah manajemen itu tidak lain karena melihat realitas tersebut.

Seseorang yang menempati posisi tertentu harus mempunyai keleuasaan gerak karena tidak akan berdesak-desakan dengan yang lain. Tidak berdesakannya itu disebabkan karena masing2 memerankan peranan yang berbeda di kapling masing2. Ketika sebuah peran tidak diperankan dengan baik dan benar, atau bahkan tidak diperankan sama sekali, maka akan terjadi ketimpangan yang menjurus pada sebuah stagnasi.

Pun Apabila posisi yang berbeda itu melakukan tupoksi yang sama, maka akan terjadi overlaping (pacorokokod) yang bisa mengarah pada "pakusut dan pabaliut".

Seorang pimpinan mutlak harus memastikan semua perbedaan2 itu bekerja sesuai dengan job description dan wilayahnya masing2. Controling and evaluating yang sustinable harus selalu dilakukan baik secara periodik maupun insidental.

Berbagi peran, itu yang dituntut dalam menyikapi sebuah perbedaan. Kita pun tidak perlu "irid2an dan abring2an", tidak perlu semua yang berteriak, tidak perlu semuanya suka berbicara, tak perlu semua suka menulis, suka berkomentar dan tak perlu semuanya mencari proyek dan "angsul". Ya... tidak semua itu berarti tetap harus ada. Berbagi peran dalam mencapai tujuan, mutlak sangat kita perlukan. Toh melodipun tidak dibangun dari satu nada bukan?

Senin, 24 November 2014

PENGEMBANGAN ORGANISASI (BAG 2)

Didalam unsur-unsur manajemen, "MEN" (Manusia) menjadi faktor utama dan pertama dibandingkan dengan unsur-unsur manajemen yang lainnya (money, method, materials, machines dan market). Dengan kata lain, Kapabilitas seseorang didalam sebuah organisasi mestinya dijadikan dasar utama untuk diapresiasi, setelah itu baru unsur unsur yang lainnya. dipungkiri ataupun tidak, terkadang kita melihat seseorang itu karena dia memiliki materi yang banyak, uang yang melimpah ruah, "mesin2" yang handal, padahal tanpa adanya kapabilitas untuk mengelola semua unsur2 itu, dapat dipastikan semuanya akan habis dengan sia2 dan tak berguna. berbeda apabila si "MEN" itu punya kapabilita didalam organisasi, maka semua unsur2 yang lainnya bisa didapatkan dan dimaksimalkan.

Organisasi juga hendaknya lebih mengutamakan kaderisasi, dari mulai proses rekrutmen, pembinaan dan distribusi kader, baik diwilayah internal maupun eksternal. ini diperlukan karena organisasi kita bukan organisasi instan atau bahkan organisasi titipan. Kaderisasi itu adalah proses menjadikan dari orang menjadi seseorang, atau dari bukan siapa-siapa menjadi sesuatu, bukan karena dia punya "darah" tetapi harus dengan "berdarah-darah". itulah kaderisasi.

Jika kita hendak mengembangkan organisasi, cara termudahnya adalah kembangkan dulu orang-orang yang ada di organisasi, karena organisasi yang berkualitas didiami oleh orang-orang yang berkualitas.

Apabila kita sering mendapati adanya oganisasi yang mati, setengah mati atau kalo meminjam istilah D,Bagindas, hidup tapi mati, itu karena ke engganan, kebingungan atau bahkan ketidak-tahuan person-person di organisasi itu untuk melakukan apa dan bagaimana? itu dipastikan mereka tidak berkualitas karna tidak mempunyai kapasitas dan kapabilitas.

oleh karena itu, bagi siapa saja yang masih peduli, mari kita bangun dan kembangkan organisasi kita ini, supaya organisasi ini bisa berkontribusi terhadap masyarakat, "KADENGE SORANA, KATEMPO AYA NA JEUNG KARASA MANGFAATNA'

NB : Orang yang memili kapabilitas, tentu memiliki kapasitas untuk di-orang-kan dalam organisasi.

Rabu, 12 November 2014

PENGEMBANGAN ORGANISASI

Penyempurnaan yang terencana dan menyeluruh baik dalam segi nilai, kaderisasi maupun struktur organisasi, menjadi suatu keniscayaan didalam organisasi. Penyempurnaan di tubuh organisasi itu kita namai dengan "Organization Development"

Pengembangan organisasi bukan hanya disebabkan karena organisasi saat ini kurang baik, namun lebih disebabkan karena tantangan yang semakin hari semakin kompleks. Kompleksitas tantangan tersebut hendaknya kita sikapi dengan arif dan bijak, yakni dengan cara "Al-muhafadzatu ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah"

Apabila saat ini kita sering menyaksikan stagnasi organisasi, baik dari sisi kelembagaan maupun pengurus, maka yakinlah pasti disitu ada yang salah. Stagnasi tersebut disebabkan karena keengganan atau bahkan kebingungan dan ketidak-tahuan untuk mengikuti perubahan, karena dianggap sebagai disequilibrium yang pada akhirnya akan menyebabkan patalogi organisasi (organisasi yang sakit).

supaya terhindar dari hal diatas, kita hendaknya secara rutin dan sustinable melakukan strategi dan kerja-kerja organisasi, diantaranya evaluasi, adaptasi, kaderisasi dan inovasi.

Strategi pertama dengan dengan melakukan evaluasi. Evaluasi bertujuan melakukan analisa, pemetaan dan permasalahan, serta menarik pelajaran dari hasil, manfaat, dan dampak dari semua kebijakan dan kegiatan yang telah digariskan dan direncanakan, sejauh mana efektifitasnya dalam mencapai tujuan organisasi.

kedua, adaptasi. Adaptasi hendaknya selalu dilakukan untuk mengimbangi dan mengikuti perkembangan dari lingkungan yang selalu berubah, baik lingkungan fisik maupun lingkungan siosial, sehingga apabila adaptasi tisak selalu kita lakukan kita akan kalah bersaing dalam mendapatkan "resources"

Ketiga adalah Kaderisasi. Kaderisasi adalah proses pendididkan jangka panjang untuk pengoptimalan potensi-potensi kader dengan cara mentransfer dan menanamkan nilai-nilai tertentu, hingga nantinya akan melahirkan kader-kader yang tangguh. Kaderisasi menjadi ruh dari organisasi, apabila kaderisasinya jalan, maka organisasi akan jalan, dan apabila kaderisasi stagnan, yakin beberapa saat kedepan organisasi itu akan bubar.

Strategi yang terakhir adalah dengan melakukan inovasi. Kenapa kita harus berinovasi? jawabannya adalah karena beberapa hal, diantaranya; untuk memenangkan persaingan, melakukan pembaruan, memenuhi permintaan "pasar" dan untuk pengembangan organisasi. Cara berinovasi yang mudah cukup dengan tiga hal, yakni memulai dengan hal-hal yang kecil, lakukan secara terus menerus dan dengan meningkatkan kualitas SDM.

Faktor-Faktor yang Mengebabkan Pengembangan Organisasi

Banyak faktor yang memaksa kenapa organisasi kita harus melakukan perubahan, yakni faktor eksternal dan faktor internal.

Semua factor yang ada di luar organisasi dimana factor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi disebut sebagai faktor eksternal. Beberapa faktor internal yang bisa kita identifikasi diantaranya adalah : 1. Kompetisi yang semakin tajam, 2. Perkembangan IPTEK dan 3. Perubahan Lingkungan baik Fisik maupun Sosial.

segala keseluruhan factor yang ada di dalam organisasi dimana factor tersebut dapat mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi disebut sebagai faktor internal. faktor-faktor internal yang kita miliki saat ini yang bisa menyebabkan organisasi kita berkembang adalah: 1) struktur; 2) sistem, aturan dan prosedur; 3) Proses dan saran dan 4) Perubahan dalam organisasi untuk mencocokkan dengan kebutuhan yang ada.


Selasa, 11 November 2014

POLEMIK PENGHAPUSAN KOLOM AGAMA DI KTP

Baru-baru ini, Menteri Dalam Negeri mewacanakan akan menghapus kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP), wacana tersebut muncul dikarenakan banyaknnya kejadian tidak mengenakkan pada pemeluk agama minoritas, misalnya adanya diskriminasi atau bahkan pemaksaan penulisan agama tertentu oleh petugas pencatat kartu tanda penduduk.

Polemik tersebut muncul dikarenakan adanya perbedaan pandangan dari masyarakat, yakni yangg setuju dengan yang menolak rencana tersebut. Dalam Undang-undang Dasar 1945, negara menjamin kemerdekaan tiaap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. dengan kata lain, negara mengatur keberagaaan warganya.

Lalu apa kaitannya penghapusan kolom agama dengan kebebasan beragama? apa gunanya agama harus di cantumkan? ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, sebagian teman malah bertanya balik "lantas apa juga manfaatnya tempat tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan dan lainnya mesti dicantumkan? dan kenapa juga isi dari KTP hanya mencantumkan identitas itu (seperti yang tercantum sekarang)?

Kalau saya berpendapat, mungkin kedepan KTP itu cukup saja mencantukman Nomor Identitas atau dengan nama saja seperti halnya kartu ATM bisa nggak ya? jadi Dinas/intansi atau institusi yang berkepentingan terhadap data seseorang cukup dengan men-scann KTP tersebut dan semua data yang dibutuhkan akan muncul. simple kan? hehehe...

Kamis, 04 Juli 2013

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG
oleh : Ryan Syaifurrachman*)


Demokrasi membawa dua implikasi, harapan sekaligus kecemasan (Amartya Sen)


Sang pemimpin memang datang dan pergi. Tapi kehadirannya tak pernah persis sebangun dan kemudian memberikan jejak yang menjadi bukti bahwa rakyat di republik ini punya harapan dan cita-cita. Faktanya, sampai detik ini, jalan yang dilalui oleh para pemimpin kita itu seperti melenceng dari cita-cita luhur republik sebagaimana tersurat secara tegas baik dalam Pancasila maupun UUD 45.


Kehidupan rakyat tetap saja merana karena pemimpin dan juga negara seola-olah menjadi sosok yang asing dan sibuk dengan urusannya sendiri. Janji manis beserta bujuk rayunya yang diobral di arena konsolidasi dan diteriakan di mimbar-mimbar kampanye, hilang begitu saja dan menguap menjadi sekadar dusta! Benarlah apa yang dikatakan Nietzsche, “negara adalah monster yang terdingin hatinya, dan dengan dingin pula ia berdusta”.


Dalam diskursus demokrasi dikenal dua buah entitas integral demokrasi, yaitu procedural dan subtansial. Entitas pertama mengacu kepada proses dan entitas kedua berorientasi pada tujuan idiil dari demokrasi itu sendiri. Keduanya bersifat kausalitas dan resiprokal, yaitu berkinlan dan saling mempengaruhi. Baik salah satunya maka baik yang lainnya begitupun sebaliknya.

Pemilukada adalah manisfetasi dari demokrasi procedural dan terciptanya sebuah pemerintahan yang baik (goodgovernance) yang berorientasi pada terkonstruksinya sebuah masyarakat yang sejahtera (welfare state) adalah substansi/tujuuan idiil dari demokrasi itu sendiri.

Pemilukada merupakan ruang kontestansi kepentingan sekaligus kontrak politik awal antara elit politik sebagai calon pemegang otoritas pemerintahan dan rakyat sebagai entitas yang akan diperintah. Sejatinya pemilukada sebagai operasional sistem dari demokrasi melahirkan sosok pemimpin dan pelayan bukan penguasa dan pemerintah. Tapi apa lacur wajah demokrasi kita, termasuk dikabupaten Sumedang tercinta, hingar bingar dan berlimpahan kemewahan tapi menapikan substansi dari demokrasi itu sendiri yaitu kontrak politik dan sosial dalam menciptakan kesejahteraan untuk rakyat sang pemilik kedaulatan. 

Bermilyar – milyar dana yang dihabiskan untuk sebuah pemilukada, tapi ketika seorang pemimpin telah dihasilkan dilegitimasi melalui proses politik pemilukada maka kembali rakyat kecewa, merana dan hanya bisa pasrah dirundung nestapa. Alih – alih melahirkan pemimpin politik dan sosial yang bisa diharapkan membawa perubahan dan kesejahteraan, demokrasi kita dalam hal ini pemilukada hanya bisa menghasilkan pemimpin tipe bandit demokrasi, yang kerjanya hanya memuaskan syahwat kekuasaan dan menumpuk harta walalu diatas penderitaan rakyat sekalipun, seperti pepatah jerman das sein das solen, apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sehingga tak berlebihan apabila ada sebagian masyarakat yang mulai bersikap apatis dan memiliki persepsi bahwa sejatinya pemilukada adalah jalan Tuhan dalam memilih wakil setan, sarkastis?? Memang iya tapi begitulah kenyataannya. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan sebagaimana pepatah yunani “vox populi vox dei” hanya dianggap sebagai objek penyerta bahkan objek penderita dari sebuah proses pemilukada sebagai sebuah pesta demokrasi.

Berkaca dari hal diatas maka sebagai bahan renungan bersama tak ada salahnya bahwa kontek perjuangan melawan lupa adalah sebuah gerakan yang harus diusung bersama setelah pemilukada usai dan pemimpin daerah terpilih. Hal ini penting dilakukan untuk sebuah proses pembelajaran bersama bahwa pemilukada adalah sebuah kontrak politik antara elit dengan rakyatnya. Sehingga janji – janji politik yang diumbar dan didengung- dengungkan oleh elit politik dimimbar – mimbar kampanye bukan merupakan sebuah “janji manis dan rayuan gombal” yang dilupkan dan dibiarkan sirna dari ingatan dan memori rakyat. 

Mari kita sama – sama membangun preseden politik yang baik bahwa janji kampanye adalah janji politik yang harus tuntas tertunaikan ketika elit tersebut mendapatkan legitimasi politik dengan menjadi pemenang di arena pemilukada. 

Mari kita menjadikan diri kita dan masyarakat yang lainnya menjadi pembelajar politik yang baik, dan jangan mau dijadikan objek dusta dimusin dusta oleh mesin dusta. Dan jadikan perjuangan melawan lupa pasca momentum pemilukada sebagai media untuk membenahi infrastruktur dan suprastruktur politik di Sumedang kita tercinta. 

Jangan biarkan para pemimpin hasil pemilukada dengan nyamannya menjadi seorang demagog politik yang kerjanya hanya menjadi agitator penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih, tapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat, bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

Besok sumedang tercinta memasuki sejarah baru dengan akan dilantiknya bupati sumedang periode 2013 – 2018. Kami ucapkan selamat!. Semoga dari pemilukada yang telah usai kami sebagai rakyat sumedang bisa mulai membangun harapan ataupun mimpi sekalipun tentang terealisasinya Sumedang yang sejahtera Sumedang yang tandang makalangan bukan Sumedang yang ngarangrangan. 

Kami hanya bisa berharap, walalupun kecemasan kami pun tinggi, karena seperti wajah pemilukada pada umumnya, rakyat lebih banyak kecewa dengan hasil pemilukada. Semoga hal ini tidak terjadi di Sumedang tercinta.

*) Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Sumedang Bidang Politik dan Hukum dan HAM, Ketua Presidium Mahasiswa Sumedang dan Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Sumedang

Senin, 01 Juli 2013

Agenda Juni 2013

  • 29 : 19.00 Menghadiri Wisuda Khatmil Qur'an PP Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Sumedang
  • 29 : 13.00 Pembukaan Konferwil PW Fatayat NU Jawa Barat di Hotel Puri Khatulistiwa
  • 29 : 09.00 Mengikuti Pelantikan Panwascam Se-Kabupaten Sumedang di Hotel Hegarmanah
  • 27 : Menghadiri Tasyakkur Akhirussanah MTs Plus Al-Hikam dan Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Sumedang
  • 24 : Melantik PC IPNU Kabupaten Ciamis
  • 15 : Pelantikan PC IPNU Kabupaten Bandung di kompleks Gedung Ormas Soreang Kabupaten Bandung

Kamis, 13 Juni 2013

Mahasiswa "Makruh" Masuk Partai Politik

Acep K Hidayat Susanto,
(Aktivis Mahasiswa Tahun 2003-2012)
Mahasiswa memang selalu menjadi topik yang  menarik untuk dikupas, membicarakan mahasiswa sama halnya dengan pemuda membicarakan gadis perawan; asyik, seru, membikin geregetan, penasaran dan lain sebagainya.

Ya, mahasiswa memang makhluk perawan, perawan dalam idiologi, perawan dalam idealisme, perawan dalam tatanan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Tidak salah apabila ada orang yang menyatakan bahwa saat-saat mahasiswa adalah saat yang ideal bagi seseorang untuk di bentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat, tentunya berkontribusi dalam melakukan berbagai perubahan di negeri ini. Sejarah dengan fakta-faktanya tidak pernah menyangsikan akan hal tersebut, dari mulai era Soekarno, Soeharto sampai saat ini dan masyarakat -walaupun tanpa konsensus- telah sepakat menyandangkan gelar "Agent of Change" kepada mahasiswa.

Mahasiswa bergerak berdasarkan nilai yang mereka fahami dan mereka yakini. Nilai tersebut mereka dapaatka (bersambung)

Sabtu, 01 Juni 2013

Agenda Mei 2013

  • 25-26 : Menghadiri acara Lakmud PC IPNU Kabupaten Sumedang di Sekre GP Ansor
  • 24 : Menghadiri Pelantikan PC IPNU Kota Tasikmalaya di gedung NU
  • 20 : Audiensi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
  • 18-19 : Menghadiri Kegiatan Diklatama CBP IPNU Kabupaten Karawang di Buper Kecamatan Tegalwaru