Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin,

Kamis, 04 Juli 2013

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG

REFLEKSI MENJELANG PELANTIKAN BUPATI SUMEDANG
oleh : Ryan Syaifurrachman*)


Demokrasi membawa dua implikasi, harapan sekaligus kecemasan (Amartya Sen)


Sang pemimpin memang datang dan pergi. Tapi kehadirannya tak pernah persis sebangun dan kemudian memberikan jejak yang menjadi bukti bahwa rakyat di republik ini punya harapan dan cita-cita. Faktanya, sampai detik ini, jalan yang dilalui oleh para pemimpin kita itu seperti melenceng dari cita-cita luhur republik sebagaimana tersurat secara tegas baik dalam Pancasila maupun UUD 45.


Kehidupan rakyat tetap saja merana karena pemimpin dan juga negara seola-olah menjadi sosok yang asing dan sibuk dengan urusannya sendiri. Janji manis beserta bujuk rayunya yang diobral di arena konsolidasi dan diteriakan di mimbar-mimbar kampanye, hilang begitu saja dan menguap menjadi sekadar dusta! Benarlah apa yang dikatakan Nietzsche, “negara adalah monster yang terdingin hatinya, dan dengan dingin pula ia berdusta”.


Dalam diskursus demokrasi dikenal dua buah entitas integral demokrasi, yaitu procedural dan subtansial. Entitas pertama mengacu kepada proses dan entitas kedua berorientasi pada tujuan idiil dari demokrasi itu sendiri. Keduanya bersifat kausalitas dan resiprokal, yaitu berkinlan dan saling mempengaruhi. Baik salah satunya maka baik yang lainnya begitupun sebaliknya.

Pemilukada adalah manisfetasi dari demokrasi procedural dan terciptanya sebuah pemerintahan yang baik (goodgovernance) yang berorientasi pada terkonstruksinya sebuah masyarakat yang sejahtera (welfare state) adalah substansi/tujuuan idiil dari demokrasi itu sendiri.

Pemilukada merupakan ruang kontestansi kepentingan sekaligus kontrak politik awal antara elit politik sebagai calon pemegang otoritas pemerintahan dan rakyat sebagai entitas yang akan diperintah. Sejatinya pemilukada sebagai operasional sistem dari demokrasi melahirkan sosok pemimpin dan pelayan bukan penguasa dan pemerintah. Tapi apa lacur wajah demokrasi kita, termasuk dikabupaten Sumedang tercinta, hingar bingar dan berlimpahan kemewahan tapi menapikan substansi dari demokrasi itu sendiri yaitu kontrak politik dan sosial dalam menciptakan kesejahteraan untuk rakyat sang pemilik kedaulatan. 

Bermilyar – milyar dana yang dihabiskan untuk sebuah pemilukada, tapi ketika seorang pemimpin telah dihasilkan dilegitimasi melalui proses politik pemilukada maka kembali rakyat kecewa, merana dan hanya bisa pasrah dirundung nestapa. Alih – alih melahirkan pemimpin politik dan sosial yang bisa diharapkan membawa perubahan dan kesejahteraan, demokrasi kita dalam hal ini pemilukada hanya bisa menghasilkan pemimpin tipe bandit demokrasi, yang kerjanya hanya memuaskan syahwat kekuasaan dan menumpuk harta walalu diatas penderitaan rakyat sekalipun, seperti pepatah jerman das sein das solen, apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan. Sehingga tak berlebihan apabila ada sebagian masyarakat yang mulai bersikap apatis dan memiliki persepsi bahwa sejatinya pemilukada adalah jalan Tuhan dalam memilih wakil setan, sarkastis?? Memang iya tapi begitulah kenyataannya. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan sebagaimana pepatah yunani “vox populi vox dei” hanya dianggap sebagai objek penyerta bahkan objek penderita dari sebuah proses pemilukada sebagai sebuah pesta demokrasi.

Berkaca dari hal diatas maka sebagai bahan renungan bersama tak ada salahnya bahwa kontek perjuangan melawan lupa adalah sebuah gerakan yang harus diusung bersama setelah pemilukada usai dan pemimpin daerah terpilih. Hal ini penting dilakukan untuk sebuah proses pembelajaran bersama bahwa pemilukada adalah sebuah kontrak politik antara elit dengan rakyatnya. Sehingga janji – janji politik yang diumbar dan didengung- dengungkan oleh elit politik dimimbar – mimbar kampanye bukan merupakan sebuah “janji manis dan rayuan gombal” yang dilupkan dan dibiarkan sirna dari ingatan dan memori rakyat. 

Mari kita sama – sama membangun preseden politik yang baik bahwa janji kampanye adalah janji politik yang harus tuntas tertunaikan ketika elit tersebut mendapatkan legitimasi politik dengan menjadi pemenang di arena pemilukada. 

Mari kita menjadikan diri kita dan masyarakat yang lainnya menjadi pembelajar politik yang baik, dan jangan mau dijadikan objek dusta dimusin dusta oleh mesin dusta. Dan jadikan perjuangan melawan lupa pasca momentum pemilukada sebagai media untuk membenahi infrastruktur dan suprastruktur politik di Sumedang kita tercinta. 

Jangan biarkan para pemimpin hasil pemilukada dengan nyamannya menjadi seorang demagog politik yang kerjanya hanya menjadi agitator penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasa menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih, tapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat, bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

Besok sumedang tercinta memasuki sejarah baru dengan akan dilantiknya bupati sumedang periode 2013 – 2018. Kami ucapkan selamat!. Semoga dari pemilukada yang telah usai kami sebagai rakyat sumedang bisa mulai membangun harapan ataupun mimpi sekalipun tentang terealisasinya Sumedang yang sejahtera Sumedang yang tandang makalangan bukan Sumedang yang ngarangrangan. 

Kami hanya bisa berharap, walalupun kecemasan kami pun tinggi, karena seperti wajah pemilukada pada umumnya, rakyat lebih banyak kecewa dengan hasil pemilukada. Semoga hal ini tidak terjadi di Sumedang tercinta.

*) Penulis adalah Wakil Ketua DPD KNPI Sumedang Bidang Politik dan Hukum dan HAM, Ketua Presidium Mahasiswa Sumedang dan Ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Sumedang

Kamis, 13 Juni 2013

Mahasiswa "Makruh" Masuk Partai Politik

Acep K Hidayat Susanto,
(Aktivis Mahasiswa Tahun 2003-2012)
Mahasiswa memang selalu menjadi topik yang  menarik untuk dikupas, membicarakan mahasiswa sama halnya dengan pemuda membicarakan gadis perawan; asyik, seru, membikin geregetan, penasaran dan lain sebagainya.

Ya, mahasiswa memang makhluk perawan, perawan dalam idiologi, perawan dalam idealisme, perawan dalam tatanan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Tidak salah apabila ada orang yang menyatakan bahwa saat-saat mahasiswa adalah saat yang ideal bagi seseorang untuk di bentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat, tentunya berkontribusi dalam melakukan berbagai perubahan di negeri ini. Sejarah dengan fakta-faktanya tidak pernah menyangsikan akan hal tersebut, dari mulai era Soekarno, Soeharto sampai saat ini dan masyarakat -walaupun tanpa konsensus- telah sepakat menyandangkan gelar "Agent of Change" kepada mahasiswa.

Mahasiswa bergerak berdasarkan nilai yang mereka fahami dan mereka yakini. Nilai tersebut mereka dapaatka (bersambung)

Jumat, 31 Mei 2013

Sang Kyai, Kado Spesial Harlah NU ke 90

Poster Film Sang Kyai
Peringatan haru lahir (harlah) Nahdlatul Ulama ke-90 kali ini terasa begitu semarak, betapa tidak, diluncurkannya film Sang Kyai yang menceritakan sejarah perjuangan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari sebagai pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan kedaulatan NKRI menjadi kado yang sangat istimewa bagi NU. Kesemarakan ini tentunya bukan hanya dirasakan oleh warga Nahdliyyin (sebutan bagi warga NU), tetapi dirasakan juga oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Dalam film tersebut sangatlah jelas tersurat dan tersirat, bahwa Peristiwa Sepuluh November yang dijadikan hari pahlawan adalah peristiwa bersejarah yang berawal dari Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Selain itu, diceritakan pula bahwa Pendudukan Jepang ternyata tidak lebih baik dari Belanda. Jepang mulai melarang pengibaran bendera merah putih, melarang lagu Indonesia Raya dan memaksa rakyat Indonesia untuk melakukan Sekerei (menghormat kepada Matahari). KH Hasyim Asyari sebagai tokoh besar agamis saat itu menolak untuk melakukan Sekerei karena beranggapan bahwa tindakan itu menyimpang dari aqidah agama Islam. Menolak karena sebagai umat Islam, hanya boleh menyembah kepada Allah SWT. Karena tindakannya yang berani itu, Jepang menangkap KH Hasyim Asyari.

KH Wahid Hasyim, salah satu putra beliau mencari jalan diplomasi untuk membebaskan KH Hasyim Asyari. Berbeda dengan Harun, salah satu santri KH Hasyim Asyari yang percaya cara kekerasanlah yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Harun menghimpun kekuatan santri untuk melakukan demo menuntut kebebasan KH Hasyim Asyari. Tetapi harun salah karena cara tersebut malah menambah korban berjatuhan.

Dengan cara damai KH Wahid Hasyim berhasil memenangkan diplomasi terhadap pihak Jepang dan KH Hasyim Asyari berhasil dibebaskan. Ternyata perjuangan melawan Jepang tidak berakhir sampai disini. Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk melimpahkan hasil bumi. Jepang menggunakan Masyumi yang diketuai KH. Hasyim Asy'ari untuk menggalakkan bercocok tanam. Bahkan seruan itu terselip di ceramah sholat Jum'at. Ternyata hasil tanam rakyat tersebut harus disetor ke pihak Jepang. Padahal saat itu rakyat sedang mengalami krisis beras, bahkan lumbung pesantren pun nyaris kosong. Harun melihat masalah ini secara harfiah dan merasa bahwa KH. Hasyim Asy'ari mendukung Jepang, hingga ia memutuskan untuk pergi dari pesantren.

Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta KH HAsyim Asyari membantu mempertahankan kemerdekaan. KH Hasyim Asyari menjawab permintaan Soekarno dengan mengeluarkan Resolusi Jihad yang kemudian membuat barisan santri dan masa penduduk Surabaya berduyun duyun tanpa rasa takut melawan sekutu di Surabaya. Gema resolusi jihad yang didukung oleh semangat spiritual keagamaan membuat Indonesia berani mati.

Di Jombang, Sarinah membantu barisan santri perempuan merawat korban perang dan mempersiapkan ransum. Barisan laskar santri pulang dalam beberapa truk ke Tebuireng. KH Hasyim Asyari menyambut kedatangan santri- santrinya yang gagah berani, tetapi air mata mengambang di matanya yang nanar.

Film Sang Kyai bukan hanya menyuguhkan tontonan yang berkualitas, tetapi juga tuntunan untuk membakar kembali semangat nasionalis dan religius.

Selasa, 16 April 2013

PERMASALAHAN TEKNIS DI LAPANGAN DAN SOLUSINYA DALAM PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 2013

1.    Apakah peserta UN yang hamil atau sedang tersangkut masalah hukum berhak mengikuti UN?
Peserta UN yang hamil atau sedang tersangkut masalah hukum berhak mengikuti UN. Kelulusan yang bersangkutan dari satuan pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mengacu kepada kriteria kelulusan yang ada di dalam POS UN tahun 2013.

2.    Bagaimana jika ada kesalahan soal dalam distribusi, misalnya soal untuk provinsi A dikirim ke provinsi B?
Dengan adanya pencetakan naskah secara terpusat seperti sekarang ini, kemungkinan kecil akan terjadi kesalaan distribusi soal. Namun, jika hal itu terjadi, maka Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) dari perguruan tinggi di wilayah tersebut menghubungi pihak percetakan untuk menggantikan dengan naskah soal yang benar dan dibuatkan berita acara. Tanggungjawab pertecetakan adalah mengirimkan naskah UN ke tempat tujuan yang benar.

3.    Bagaimana pelaksanaan UN bagi peserta Tuna Netra yang tidak mendapatkan soal UN dalam bentuk Braille?
Bagi peserta Tuna Netra yang tidak mendapatkan soal UN dalam bentuk Braille, akan didampingi oleh guru pengawas untuk membacakan soal ujian. Untuk itu akan ada penambahan waktu 40 menit dengan jedah waktu 30 menit antar mata pelajaran.

4.    Bagaimana jika ada kekurangan/kerusakan naskah soal dan LJUN di ruang ujian?

a.    Jika terjadi kekurangan naskah soal dan LJUN di ruang ujian, maka diberikan satu set naskah soal dan LJUN cadangan yang terdapat di ruang lain atau sekolah/madrasah yang terdekat.

b.    Jika sebelum UN dimulai dan diketahui ada kekurangan naskah soal dan LJUN dalam jumlah yang banyak dan naskah soal dan LJUN cadangan tidak mencukupi, maka penyelenggara UN Tingkat Satuan Pendidikan diperbolehkan memfotokopi sesuai jumlah yang diperlukan. Pada saat proses fotokopy, siswa tetap menunggu sampai soal yang difotokopi datang, kemudian mereka memulai UN secara bersamasama. Pada saat memotokopi naskah, supaya diperhatikan naskahnya lengkap sepasang antara LJUN dengan naskah soalnya sehingga barcode di naskah soal sesuai dengan barcode di LJUN.

c.    Jika di sekolah atau wilayah tersebut tidak ada mesin fotokopi, maka siswa yang tidak mendapatkan naskah soal UN diberi soal yang sudah dikerjakan oleh temannya dan jawaban ditulis di kertas kosong sebagai pengganti LJUN. Selanjutnya soal dan jawaban dibawa ke tempat pemindaian (PTN) untuk dipindah ke LJUN dengan dibuatkan berita  acara. Dalam hal ini, di tempat pemindaian harus sudah disiapkan LJUNnya dan petugas pemindaian harus sudah dicoaching sebelumnya bagaimana mengantisipasi kejadian seperti ini.

d.    Jika di tengah-tengah pelaksanaan ujian peserta ujian menggunakan hapusan kemudian LJUNnya rusak atau robek, maka peserta ujian harus diberikan pasangan naskah soal dan LJUN yang baru. Peserta ujian tidak harus mengulang atau mengerjakan kembali soal-soal yang sudah dikerjakannya, tetapi cukup mengerjakan soal nomor berikutnya pada naskah soal (tidak pada LJUN) atau pada kertas kosong (HVS). Soal dan jawaban dikumpulkan dan dikirim ke tempat pemindaian. Kejadian ini harus dituangkan dalam berita acara. Sebelum pemindaian, petugas pemindai akan memindahkan jawaban tersebut ke LJUN terlebih dahulu. Kejadian ini dibuatkan berita acara di tempat pemindaian.

5.    Bagaimana jika ada peserta UN yang memperoleh naskah soal/LJUN yang cacat atau rusak?
Peserta UN yang memperoleh naskah soal/LJUN yang cacat atau rusak, maka naskah soal dan LJUN tersebut diganti dengan satu set naskah soal dari naskah soal/LJUN cadangan di ruang ujian atau ruang lain atau sekolah lain.

6.    Bagaimana penempatan peserta dalam ruang ujian jika ada yang kurang dari 20 peserta?
a.    Jika peserta UN di sekolah/madrasah sudah dibagi menjadi 20 peserta untuk setiap ruang ujian dan masih ada kelebihan < 5 (lima) peserta, maka pembagian peserta ujian di dalam ruang ujian diatur sebagai berikut:
                                                            Jumlah
Peserta    Ruang 1    Ruang 2
21           10           11
22           10           12
23           10           13
24           10           14
25           10           15
b.    Jika kelebihan peserta > 6 siswa, maka peserta tersebut ditempatkan dalam satu ruang tersendiri.

7.    Apa tindakan yang diambil jika terjadi pelanggaran POS UN oleh peserta UN atau pengawas ruang ujian?

a.    Untuk jenis pelanggaran ringan, cukup diberi peringatan secara lisan.

b.    Untuk jenis pelanggaran sedang dan berat, pengawas satuan pendidikan atau penyelenggara UN tingkat satuan pendidikan melaporkan temuan tersebut ke Posko UN untuk ditindaklanjuti.

c.    Laporan harus disertai dengan data-data dan bukti-bukti yang valid, akurat, dan dapat dipercaya.

8.    Untuk daerah terpencil yang sarana transportasinya terbatas, pengawas satuan pendidikan tidak bisa menyerahkan LJUN dari satuan pendidikan ke Perguruan Tinggi setiap hari. Apa yang harus dilakukan?
Dalam kondisi seperti itu, LJUN dapat disimpan di titik simpan soal terakhir sampai hari terakhir UN dengan pengamanan dari Kepolisian. Selanjutnya pengawas menyerahkan LJUN tersebut ke perguruan tinggi pada hari terakhir ujian dengan mempertimbangkan keberadaan sarana transportasi di wilayah tersebut.

9.    Apa yang harus dilakukan jika LJUN tidak dapat dipindai?
Petugas mengecek dan memastikan apakah masalah tersebut disebabkan oleh kerusakan mesin pemindai (scanner) atau disebabkan oleh LJUN. Jika kesalahan pada alat pemindai, maka perlu diperbaiki. Jika kesalahan pada LJUN maka perlu diteliti apakah ada kesalahan pengisian oleh peserta didik atau ada sebab lain. Petugas pemindai perlu membuat solusi atas masalah tersebut, misalnya menghitamkan jawaban siswa yang tidak terbaca, dan dituangkan dalam berita acara.


Sumber : http://bsnp-indonesia.org/id/bsnp/wp-content/uploads/2013/04/Draf-9-April-Strategi-Penanganan-Masalah-UN-.pdf

Senin, 10 Desember 2012

Polemik Soal UAS Sejarah MA

IPNU Sesalkan Penghinaan Gus Dur

Acep K Hidayat Susanto
(Ketua PW IPNU Jawa Barat)
Baru juga reda kemarahan Warga Nahdliyyin setelah pernyataan kontroversial politisi Partai Demokrat, Sutan Bathoegana yang menyebutkan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid lengser dikarenakan kasus korupsi Buloggate dan Bruneigate, kini warga NU dibikin geram. Betapa tidak, Soal ujian akhir sekolah (UAS) tingkat Madrasah Aliyah se-Jawa Barat pada salah satu butir soal mata pelajaran Sejarah itu kembali menuding Presiden kelima Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lengser karena korupsi sebagai salah satu pilihan jawabannya.

Kekesasal tentang hal tersebut juga disampaikan oleh Acep K. Hidayat Susanto, salah satu Kader Muda Nahdlatul Ulama Sumedang. Menurut Acep dalam soal tersebut terdapat pemutar balikkan fakta sejarah "Gus Dur tidak pernah diputuskan bersalah atas kasus Buloggate dan Bruneigate secara yuridis,", oleh karena itu Musyawarah Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (MK2MA) sebagai pembuat soal dan Kemenag Jawa Barat harus bertanggung jawab.

Menurut Acep yang juga merupakan ketua PW IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Jawa Barat ini mengatakan, kita harus meminta pertanggung jawaban Kemenag tentang hal ini, apakah ini merupakan suatu bentuk kesengajaan atau kelalaian.

“Saya sebagai ketua PW IPNU Jawa Barat sudah mengintruksikan semua ketua PC IPNU se-Jawa Barat untuk melakukan penyikapan secara serentak pada hari senin besok (10/12/2012) di Kabupaten/Kota masing-masing dan aksi besar-besaran juga akan di lakukukan secara terpusat di Kanwil Kemenag Jawa Barat pada hari selasa (11/12/2012)”. Ujarnya.

Acep juga menambahkan, “Kita mendesak agar soal tersebut dianulir, buku-buku yang mencantumkan kekeliruan tersebut di tarik dari peredaran, para pelakunya harus di tindak tegas dan Kemenag selaku Institusi yang membawahi hal ini harus bertanggung jawab”. Imbuhnya.

Sumber : Koran Sumedang Ekspres Edisi Hari Senin 10-12-2012

Kamis, 15 November 2012

Re-Orientasi Kongres "Tertib Berwacana"

Acep K Hidayat Susanto
(Ketua PW IPNU Jawa Barat)
Kongres XVII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang akan diselenggarakan di Asrama Haji Palembang, Sumatera Selatan tinggal menghitung hari. Kegiatan Akbar yang dilaksanakan pada 30 November - 4 Desember ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi IPNU untuk skala nasional.

Kongres IPNU ini diselenggarakan untuk mengevaluasi, membahas dan merumuskan agenda organisasi yang visioner dalam waktu tiga tahun ke depan, serta melakukan proses suksesi kepemimpinan pengurus pusat masa khidmat 2012-2015.

Dalam menghadapi kongres ini, semua kader IPNU di seluruh Indonesia tentu saja berkeinginan terlibat untuk menciptakan sejarah atau bahkan hanya sekedar menyaksikan terjadinya proses sejarah pada pelaksanaannya nanti. Segala macam persiapan sudah mulai di siapkan sejak jauh-jauh hari baik oleh pimpinan pusat, pimpinan wilayah, pimpinan cabang atau bahkan oleh pimpinan dibawahnya lagi.

Seperti halnya di beberapa organisasi yang lain, momentum kongres selalu saja di sibukkan dengan hilir mudiknya kontestan kandidat calon ketua umum untuk mendulang dukungan dan suara, termasuk di IPNU. Entah kenapa pemilihan dan penetapan ketua umum seakan menjadi hal utama dan isu yang pertama. Pemahaman sebagian rekan-rekan seperti itu tentu tidak sepenuhnya salah, namun sedikit keliru. Kekeliruan pemahaman tersebut diperparah lagi dengan semakin hilangnya idealisme kader yang bergeser ke arah pragmatisme.

Lalu apabila ada pertanyaan apakah kontestasi di tubuh IPNU tidak penting? tentu saja jawabannya adalah penting, bahkan sangat penting. Namun yang harus di tekankan dan menjadi pemahaman kita adalah sebelum menjurus ke arah sana ada urutan kepentingan tujuan yang tidak kalah pentingnya dengan kontestasi dan itu yang harus dijadikan urutan isu. Urutan-urutan tersebut tersurat dalam Peraturan Rumah Tangga (PRT) IPNU Pasal 29 diantaranya: membahas perubahan PD/PRT (apabila diperlukan), membahas prinsip perjuangan IPNU, membahas GBP3, membahas kebijakan – kebijakan IPNU secara nasional, manilai Laporan Pertanggung Jawaban Pimpinan Pusat dan baru membahas pemilihan Ketua Umum dan Formatur.

Tidak hanya tersurat didalam Peraturan Rumah Tangga saja, urutan pembahasan masalah-masalah tersebut diatas juga dipakai dalam pelaksanaan persidangan-persidangan di kongres (walaupun beberapa pembahasan di laksanakan memakai sidang komisi, namun pemilihan ketua umum dan formatur tetap selalu terakhir). Masalah ini sebetulnya spele, namun apabila tidak diurutkan berdasarkan tingkat mana yang lebih penting/utama akan menghasilkan hasil yang tidak fundamental.

Mengapa hal ini harus dibahas? Supaya para kader berkonsentrasi pada substansi kongres untuk merumuskan dan merancang program-program pengembangan IPNU kedepan. Apabila hal itu sudah dilakukan, baru kita membahas siapa sosok yang cocok untuk mengawal konsep-konsep dan juga program pemengembangan IPNU tersebut.

Apabila pengusungan calon di gembar-gemborkan dari jauh-jauh hari, ditakutkan terjadi konflik kepentingan sehingga menjadi pertentangan dan peperangan terbuka. Dan terbukti, hal tersebut di beberapa daerah sudah terjadi. Anehnya, bila konflik atau pertentangan yang disebabkan oleh proses kontestasi biasanya berlangsung sangat lama dan susah untuk di rekonsiliasi, pun sebaliknya.

Oleh karena itu, mari kita tertib berwacana, dahulukan wacana yang memang harus di dahulukan dan kita akhirkan wacana yang memang harus dijadikan wacana terakhir. Walaupun ini sebetulnya tidak substantif, tapi sekecil apapun ikhtiar kita untuk perbaikan IPNU kedepan, mudah-mudahan menjadi secuil tindakan konkrit dan amal baik kita semua. Wallahu a'lam

Selasa, 23 Oktober 2012

Teks Do'a Sumpah Pemuda 2012


DO'A
PADA PERINGATAN HARI SUMPAH PEMUDA KE-84
28 OKTOBER 2012



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang,

Logo HSP 2012
Saat ini kami berhimpun untuk memperingati hari bersejarah dalam rangkaian panjang perjuangan bangsa kami, Hari Sumpah Pemuda. Di saat itu para pemuda mengumandangkan ikrar persatuan keseluruh penjuru tanah air Indonesia. Saat ini kami berupaya menumbuh-suburkan sikap kepahlawanan mereka dengan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-84 Tahun 2012, seraya berserah diri kepada-Mu wahai Allah Yang Maha kasih sayang dan terpuji.

Ya Allah yang Maha Agung lagi Perkasa

Berikanlah kepada para pemimpin kami petunjuk-Mu yang nyata, ketajaman mata hati, kesabaran yang membaja, kerendahan hati, keikhlasan dan rasa syukur yang tinggi dalam mengabdi serta berkarya sehingga masing-masing kami dapat menunaikan peran dengan benar dan kepada arah yang benar

Ya Allah yang Maha Mengabulkan Do'a,

Luaskan kesabaran kami, kokohkan kesungguhan kami, bersihkan hati kami agar kami tetap mampu berupaya keluar dari lilitan persoalan yang sulit kami pecahkan, agar kami bersikap bijak atas kekurangan, kesedihan, harapan dan perjuangan yang belum selesai.

Ya Allah yang Maha Bijaksana,

Kami sadar bahwa keberhasilan tercapai hanya karena anugerah dari-Mu dalam kemampuan yang Engkau titipkan kepada kami, jasa guru kami, pemimpin kami dan peran orang- orang di sekitar kami. Sungguh tak tahu diri sekiranya kami tidak dapat bersyukur atas karunia-Mu. Sungguh kami telah aniaya sekiranya setiap pencapaian prestasi kami tidak mengembalikan kepada-Mu.

Ya Allah yang Maha Kuasa,

Engkau telah wujud sebelum segala sesuatu ada, dan tetap wujud setelah segala sesuatu tiada, dan Engkau adalah yang mengadakan segala sesuatu. Jadikanlah untuk kami segala persoalan kami, persoalan bangsa kami menjadi mudah terselesaikan dengan penyelesaian baik menurut-Mu. Berilah perlindungan kepada kami jika ada yang berkehendak buruk terhadap kami.

Wahai Penggenggam Jiwa, Pelembut Hati,

Eratkan tali persaudaraan diantara kami sehingga setiap perkumpulan kami menjadi sinergi positif yang menghasilkan kekuatan dahsyat dalam membangun kemaslahatan bagi umat manusia. Jauhkan kami dari sifat iri, dengki dan mementingkan diri sendiri serta perangai yang tidak terpuji.

Karuniakanlah kepada pemuda dan seluruh anak bangsa kami keimanan dan ketaqwaan yang sempurna sehingga menjadi generasi yang memilliki profesionalitas, integritas dan kompetensi yang tinggi menuju bangsa yang bermartabat menyongsong persaingan di masa depan.

Bimbinglah para pemuda dan seluruh anak bangsa dan negara ini sesuai dengan cita-cita pendahulu kami untuk menjadikan negara dan bangsa yang adil, makmur dan sejahtera

Ya Allah kabulkanlah do'a kami, amin ya robbal 'alamiin.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Minggu, 30 September 2012

Agenda September 2012

  • 22 : Ngisi Materi "Teknik Sidang" di OSPEK STAI Sebelas April Sumedang bertepat di Cibingbin Sumedang
  • 21 : Pelantikan Anggota PPL se-Kecamatan Conggeang
  • 20 : Menyeleksi pendaftar PPL (Pengawas Pemilu Lapangan) Se-Kecamatan Conggeang
  • 09 - 11 : Pelantikan dan Bintek Panwascam di Hotel Puri Khatulistiwa Jatinangor
  • 08 : 11.00 - 17.00 Porseni Tingkat KKM Ujungjaya di MTsN Ujungjaya
  • 08 : 08.00-10.00 Pembagian undangan dan Pembekalan buat pelantikan Panwascam di gedung Korpri Sumedang
  • 07 : Pengumuman Seleksi Panwascam Sumedang