--= Sekedar Coretan =--
"Katempo Ayana, Kadenge Sorana jeung Karasa Mangfaatna"

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Alangkah Lucunya negeri ini

Alangkah sulitnya mendapatkan film yang 'muatannya' berbobot hingga usai menonton benar-benar membawa pulang sesuatu. Dan rupanya hal itu d tangkap dengan baik oleh aktor kawakan Deddy Mizwar dalan berkarya. Untuk selanjutnya dengan serta merta menyajikan dalan sebuah karya berupa film yang nemang sudah mendarah daging dalam dirinya.

Sabtu, 31 Januari 2009

KUDETA MADIUN 1948 KUDETA ATAU KONFLLIK INTERNAL TENTARA

Dalam Buku ini, David charles Anderson berargumen bahwa meletusnya peristiwa PKI Madiun 19 September 1948 lebih merupakan hasil prakondisi berupa perselisihan internal tentara. Peristiwa itu tidak lepas dari rekayasa politik dalam sepktrum rivalitas antara kaum kiri dan kanan.

Berbagai intrik menyangkut rencana restrukturisasi-rasionalisasi mendapat tanggapan berbeda dikalangan militer “professional” dan laskar Rakyat. Oleh pihak-pihak tertentu, situasi ini dimanfaatkan secara oportunistik untuk menyiapkan jebakan; untuk mematikan kaum kiri, sekaligus mendapat simpati Amerika Serikat yang vital bagi perjuangan RI memperoleh pengakuan kedaulatan

Penerbit MEDIA PRESSINDOJl. Irian Jaya D-24 Perum Nogo Tirto Elok IIYogyakarta 55292Telp. (0274) 7103084, Faks. (0274) 620879

Kamis, 01 Januari 2009

Pertentangan Sukarno vs Hatta

Ditengah musim pancaroba, dimana kita sedang mencari format yang pas bagi kehidupan berbangsa, perlu sekali kiranya kita melongok kembali warisan para bapak bangsa kita, termasuk yang terbesar tiantaranya adalah Bung Karno dan Bung Hatta. Dipersatukan oleh cita-cita yang sama, kedua tokoh ini memilikikonsep kehidupan bernegara yang sama sekali berbeda.

buku ini memaparkan pertalian Bungkarno dan Bung Hatta yang merupakan yang merupakan siklus "dari dwitunggul, menjadi dwitunggal, dan akhirnya dwitanggal". "Dwitunggul, karena kedua tokoh besar ini masing-masing telah menhjadi panji-panji, menjadi "tunggul" perjuangan golongan nasionalis di masa pergerakan. mereka menjadi "dwitunggal", setelah keduanya bersatu dan menghilangkan segala perbedaan demi mencapai cita-cita bersama dan memimpin bangsanya menuju pintu gerbang kemerdekaan. tapi, akhirnya perjalanan mereka harus berakhir dengan "dwitanggal", setelah mereka saling tidak sepaham dalam banyak hal, seperti yang terjadi semula di masa pergerakan.

yang menarik, dan mungkin justru merupakan pelajaran amat berharga bagi para politisi kita sekarang adalah bahwa pertentangan itu tidak menyangkut soal pribadi, tanpa caci maki, tanpa pengerahan masa apalagi anarkis.

"jasmerah!" kata Bung Karno, "Jangan Sekali-sekali melupakan Sejarah!" Kita bahkan bisa banyak belajar dari sejarah yang penuh pertentangan antara dua tokoh besar ini.

penerbit :
PT. Gramedia Pustaka Utama
www.gramedia.com

pengarang :
Wawan Tunggul Alam, S.H.